Oleh: syaddad | Kamis, 27 Desember 2007

Suatu Hari Natal Orde Baru

Suatu pagi di bulan Desember, sekian tahun silam. Orde Baru dan Presiden Soeharto masih sangat berjaya. Pemerintahan tunggal Golkar-ABRI bukan saja berhasil membuat kaum Muslimin takut ber-Islam tetapi bahkan malu mengaku Muslim. Saya bergegas masuk ke kantor tempat saya baru saja mulai bekerja sebagai wartawan sebuah koran di Jakarta, menaiki tangga sempit menuju lantai 2 bangunan sederhana di sebelah gedung megah perusahaan penerbitan terbesar di Indonesia. Saya membuka pintu newsroom dan berhadapan langsung dengan sebuah pohon Natal raksasa di tengah ruangan. Begitu besar dan tingginya pohon tersebut sehingga pucuknya bukan sekedar menyentuh langit-langit namun bahkan melengkung dan tertekuk.  “Ooops…” ujar saya, lalu berpaling kepada sekretaris pemimpin redaksi, seorang Muslimah keturunan Arab yang tidak berhijab.  ”Natalnya masih lama Mbak…tapi sudah dipasang ya.”

 “Ya memang begitu,” ujarnya dengan suara biasa saja. Maka sejak hari itu sampai sekian waktu sesudahnya, saya bekerja di bawah naungan (dan keluar masuk newsroom melingkari) pohon Natal besar itu. Dari waktu ke waktu saya lihat hiasannya bertambah, dan Mbak SekRed ikut membantu menambahkan. Dari waktu ke waktu saya lihat kesibukannya menerima dan mendistribusikan kiriman kartu dan hadiah Natal, baik yang ditujukan kepada Pak PemRed maupun staf lainnya. Sampai tiba pengumuman akan dilangsungkannya perayaan Natal di kantor pada suatu sore; seluruh karyawan diharapkan hadir untuk bersalam-salaman dengan mereka yang merayakan Natal. Ada makanan dan minuman disediakan – belakangan saya menandai bahwa dalam berbagai perayaan di kantor itu selalu disediakan minuman keras yang dikonsumsi oleh banyak sekali orang, mulai dari direktur (yang sebenarnya Muslim keturunan Arab namun kuat minum khamr sampai wajahnya merah dan bicaranya mulai ngelantur) sampai anggota Satpam. Kalau sudah begitu, saya tinggal menunggu pemandangan tak enak orang-orang yang antre di depan kamar mandi sementara yang di dalamnya muntah dengan suara keras, ”hoek, hoek.”

Di sore perayaan Natal itu, saya kembali dari liputan di DPR sekitar waktu Ashar. Begitu masuk kantor, suasana meriah sudah terlihat. Orang lalu lalang dan turun naik membawa makanan dan minuman di tangan dari dan ke lantai 2 tempat berlangsungnya acara. ”Apaan tuh?” tanya saya berlagak bego.  “Makan-makan Mbak,” jawab seorang petugas kebersihan berseragam hijau.  ”Banyak banget makanannya.”  “Emang ada apa?”  “Kan Natalan.”  “Ooh…” sahut saya lalu bergegas menuju mushala, sebuah ruangan sementara dengan dinding tripleks bercat putih di lantai dasar. Saya shalat lamaaaaaaaa…. sekali. Bukan karena saya orang shalih, tapi karena saya bingung. Maklum, ilmu agama cuma sedikit, tapi otak saya sudah mengingatkan kembali bahwa haram hukumnya bagi seorang Muslim mengucapkan selamat hari Natal atau ikut dalam perayaan-perayaannya, sementara hati saya pun sudah menjerit, “Jangan naik ke atas, jangan bergabung dengan mereka.” Tapi, bagaimana caranya menunjukkan sikap ini tanpa menimbulkan masalah tambahan bagi saya? Saya ini pegawai baru yang masih berstatus karyawan percobaan, satu-satunya wartawan berjilbab di sebuah koran yang didominasi kaum Nashara. Saya harus menghadapi tantangan dobel: membuktikan bahwa saya Muslimah pintar dan berprestasi di kantor, sekaligus sabar menghadapi diskriminasi terhadap Muslimah berjilbab saat itu. Masa’ saya masih harus menambahkan cap ekstrimis dan radikal serta anti-toleransi beragama karena tidak mau ikut Natalan, ke dalam gerobak masalah saya? Saya memperlama shalat saya karena saya berdoa dulu, minta petunjuk Allah tentang bagaimana sebaiknya bersikap. ”Ya Allah, apa sebaiknya saya keluar kantor saja lagi ya? Bilang saja, mau wawancara narasumber kek. Ah, tapi tadi sudah ada sejumlah teman non-Muslim yang melihat saya datang. Gimana dong ya Allah?” Selama-lamanya shalat dan berdoa, kan tidak mungkin terus menerus. Akhirnya selesai juga shalat dan munajat saya, sementara saya masih dalam keadaan bingung. Saya duduk bersandar lamaaa…sekali di dalam mushala. Silih berganti para lelaki Muslim (yaitu pegawai cleaning service berseragam hijau) masuk untuk shalat Ashar (sementara para karyawan lain yang mengaku Muslim sudah ramai tertawa-tawa makan minum di atas).  Ada seseorang yang bertanya, ”Mbak nggak ke atas?”  ”Nggak ah,” jawab saya. Lalu, nggak tahu dari mana asalnya, tapi kayaknya dari Allah, terlontar dari mulut saya. ”Kan Muslim nggak boleh menghadiri perayaan Natal. Haram kan?” Si petugas kebersihan itu terdiam sejenak. Tangannya mengusap-usap wajahnya yang masih basah oleh wudhu.  “Jadi kita nggak usah ke atas?” Saya tahu biasanya petugas cleaning service tidak diajak pesta atau perayaan, dan baru berani mengambil makanan sesudah kaum elit (misalnya, PemRed, Direktur-direktur, Editor, Reporter) menghabiskan sebagian besar hidangan. Tapi saya jawab juga, ”Kalau saya sih nggak ah. Di sini aja ah. Sampai pesta selesai.” ”Gitu ya Mbak?”  ”Ya lah.” Tak lama kemudian, masuk seorang karyawan yang lebih senior daripada saya, seorang lelaki Muslim. Siap-siap shalat.  ”Nggak ke atas Mas? Selama ini, bagaimana Anda bersikap pada kesempatan seperti ini?” Dia memahami maksud pertanyaan saya. Lalu dia menjelaskan panjang lebar pergulatan batinnya pada saat-saat seperti itu; di satu pihak, ada unspoken rule bahwa semua karyawan, tidak perduli agamanya, harus mengikuti perayaan Natal karena bukankah karyawan Nashara juga ikut dalam perayaan Idul Fitri? Di lain pihak, dia pun tahu bahwa haram hukumnya bagi seorang Muslim ikut perayaan Natal. Karena si Senior tampak bimbang, saya malahan menjadi lebih berani. ”Ya sudah Mas. Di sini saja. Sampai selesai.” Itulah yang saya lakukan, ngumpet di mushala sampai perayaan Natal selesai. Begitu saya bersiap-siap mulai membuat berita, ada seseorang menyodorkan sepiring kecil berisi kue coklat yang tampaknya lezat sekali. ”Ini, aku sisihkan untuk teman yang tadi nggak hadir,” katanya. Saya berterimakasih namun menolak. ”Maaf, saya ndak boleh makan ini.” ”Kenapa sih? Diet ya?” tanya si teman, matanya menyelusuri gamis longgar saya. ”Nggak. Itu kue Natal. Saya Muslim, nggak boleh ikutan Natal dan berarti juga nggak bisa ikutan makan kue-kuenya,’ ‘ saya menjawab dengan nada ”dibiasa-biasain’ ‘ saja. Padahal jantung berdentam-dentam cemas karena yang menawari kue sangat dekat dengan PemRed yang Kristen itu. Masih dengan gaya sok biasa, saya menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin lalu pulang. Dalam waktu singkat, seperti saya duga, sejumlah teman segera tahu bahwa saya ”mengharamkan’ ‘ ikut perayaan Natal. Meski bukan saya yang ”mengharamkan’ ‘ lho, tapi fatwa MUI dibawah pimpinan Almarhum Buya HAMKA. Seorang teman, perempuan non-Muslim, menandai sikap saya ini. Suatu kali dalam kesempatan meliput bersama (maksudnya, saya ingin nebeng mobilnya), dia menanyakan hal itu dan saya jawab apa adanya. “Bagi Muslim haram hukumnya menghadiri perayaan Natal.” Tiba-tiba saja dia menjawab, “Tahu nggak sih kamu, menurut agamaku, aku tuh nggak boleh bergaul sama kamu. Sebagai ‘anak-anak terang’, kami sebenarnya nggak boleh bergaul dengan kalian…” Saya tidak tahu, apakah dia ingin mengatakan “tapi aku tetap bergaul denganmu karena aku bertoleransi’ ‘ ataukah dia ingin mengatakan “aku berani melanggar larangan agamaku karena pekerjaanku mengharuskan aku bergaul dengan yang bukan anak-anak ‘terang’?” Yang terlintas di pikiran saya malahan ini: “Apa ya, lawan katanya ‘anak terang’? Apakah ‘anak gelap’?” Tapi yang muncul dari mulut saya (yang mudah-mudahan karena dituntun oleh Allah Ta’ala) adalah ini, ”Lho, saya nggak apa-apa kok, kalau kamu nggak mau bergaul denganku. I’m only practicing my faith, Islam, so if you wish to observe your religious teaching, by all means, please do so. Saya melaksanakan iman Islam saya, jadi kalau kamu juga mau menjalankan agamamu, lha monggo.” Teman saya ini hanya tersenyum kecil dengan gayanya yang cool. Lalu mengambil kunci mobil dan membukakan pintu bagi saya. ”Ayo naik,” katanya, dan kami pun berangkat meliput. Tak terasa setahun terbang begitu cepat, datang lah Desember berikutnya. Saya sempat memikirkan kembali bagaimana cara melarikan diri dari kantor pada waktu itu. Tetapi suasana kantor malahan adem ayem. Tak ada orang menggotong-gotong pohon Natal raksasa yang sampai mentiung karena tingginya. Hanya ada satu pohon Natal ukuran sedang di ruangan PemRed. Dengan suara “dibiasa-biasain’ ‘ saya hampiri Mbak SekRed. ”Nggak ada perayaan tahun ini Mbak?” ”Nggak. Nggak ada perayaan Natal. Nggak ada perayaan Idul Fitri,” katanya. ”Ooh…” Saya tidak tahu bagaimana akhirnya pihak manajemen, yang dikuasai orang-orang Kristen taat, sampai pada keputusan itu dan mengapa. Emangnya gue pikirin? Yang penting, saya tidak usah bimbang lagi. Dalam hati saya berseru, ”Allahu Akbar! Nggak apa-apa nggak ada perayaan Idul Fitri di kantor! Enakan makan ketupat dan sayur pepaya masakan emakku di rumah!”

oleh Santi Soekanto

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: