Oleh: syaddad | Jumat, 28 Desember 2007

Berpelukan Dengan Pohon Durian

“Pagi itu saya sedang beberesih dan bebenah rumah’ tutur Ibu Sapiah. ‘…tiba tiba saya mendengar  suara keras sekali seperti  ledakan bom dan diikuti dengan goncangan keras.’  Ibu Sapiah berteriak memanggil kedua anaknya ” Ya Allah naak ini kiamat..kiamat ” sambil berlari keluar. Semua orang panik dan ketakutan..tak lama kemudian air bah datang, semua orang teriak teriak: ‘ Air…air..air. .!!! Naak  sini naak ini kiamat, ini kiamat…’ Lalu ia mencari anak anaknya. Yultisa usia 10 yang paling besar sudah melarikan diri kegunung. Si Ibu  mengajak  kedua anaknya yang kecil untuk lari kegunung. Syahril sudah lari pula kebukit dengan cepatnya. Ibu Sapiah  memegang erat anaknya yang kecil, namun apa daya… sang ombak Tsunami tiba tiba memampas anaknya Yuliana, memisahkan mereka. Terlepas. Ibu Sapiah panik dan berteriak.. ‘ Pa. ..pa anakku lepas, anakku lepas….’ setengah histeris. Mereka suami istri berupaya menyelamatkan diri berlari kearah gunung. Mata mereka  seakan berkunang kunang, tak tahu apa yang bisa mereka lihat kecuali warna kelabu kelam dengan suara gemuruh yang begitu menakutkan. ‘Piaaah..daaah biarin anak kita hilang. Selamatkan dirimu, cepat lari !’ ujar suaminya, keras sekali. ‘Saya sudah tidak tahu apa yang terjadi sama diri saya dan saya tetap mencari anak saya, Yuliana.  Saya ingat, saya di tergulung dengan ombak tapi sekali saja lalu dihempas kedarat. Kayanya 2 atau tiga kali ombak Tsunami terjadi, saya nggak ingat bu. Waktu lemparan pertama saya setengah terhempas  kepinggiran lalu saya berenang, tiba-tiba saya lihat ada  anak kecil terapung, lalu saya berfikir ‘ Ehh..ini anak siapa ini, kasihan amat, lalu  saya ambil dan saya gendong…oh. .ternyata anak saya sendiri, ya Allah anakku…! oh saya seneng sekali. ‘Ibuu Yul jangan dilepas lagi..uuuuhhh ‘ Yul menangis sekuat tenaga lalu saya gendong, Yul pegangan dipundak saya, lalu mencoba berenang ke daratan. Tiba tiba saya terlempar lagi kearah bukit, tapi tidak terbawa  oleh sang ombak, pas terdampar dipohon durian.Karena saya takut tersambar lagi saya manjat sekuat tenaga. Kepohon itu. Betul saja, saya melihat air datang lagi mengejar kami, sayapun naik dan terus memanjat sang pohon..’ tutur bu Sapiah diringi air mata, mengenang perjuangan untuk menyelamatkan dirinya. “Saya melihat air besar datang lagi saya pegangan erat dengan pohon yang besar dan kasar itu..’ ia mengulangnya, dengan rasa bersyukur.” Naah sesudah air tidak datang lagi dan saya yakin sudah aman saya melihat kebawah dan air surut dan nampak tenang, barulah kami turun. “Entah bagaimana kami bias memanjat  pohon durian yang besar itu, padahal saya tidak pernah bisa manjat pohon. Pohon durian itu besar batangnya dan kasar….dengan pertolongan Allah kami bisa turun kebawah lalu kami mendaki gunung”.  Bu menyatkan rasa syukurnya akan kebesaran Allah. “Kami duduk meratapi dan memikirkan kiamat yang begitu cepat…lalu saya teriak teriak memanggil anak saya Yulrisa dan Syahril, mereka  mendengar suara saya…mereka datang  mendekat, kami bertangisan dan berpelukan. Badan dan baju kami penuh lumpur. Ombak Tsunami membawa lumpur warna abu-abu kecoklatan dan baunya uuuh  tidak sedap, namun kami bersabar saja”, tambahnya lagi. “ Itu bener-benera kiamat bu, walaupun kecil’ ia meyakinkan saya. “Digunung kami diam beberapa jam lalu kami mencari kelapa yang ada, anak saya Syahril memecahkannya lalu kami minum airnya. Dengan susah payah kami pecahkan si kelapa dan kami makan dagingnya, ya alhamdulillah kami bertahan hidup beberapa hari dibukit dengan kelapa”.

Turun kedarat

 ‘Kami tidak mendapat pertolongan dan tidak ada yang memberi tahu harus kemana, jangankan  yang menjemput. Akhirnya kami turun kedaratan mencari jalan ketempat yang aman. Susah sekali karena kami tidak pake sepatu atau sandal…wah ngeri sekali,  kami berjalan sekitar 2- 3 kilometer, syukurlah akhirnya kami tiba di kantor kecamatan dan alhamdulillah saya dan keluarga lainnya menempati tenda ini bu….’ ibu Sapiah mengakhiri  pengalamannya yang dahsyat itu, sambil menyilahkan saya untuk masuk kedalam tendanya. Saya berpura-pura menerma undanganya,masuk kedalam tenda, membongkok dan menggenggami uang sebesar limapuluh ribu untuk menutupi kebutuhan sehari hari mereka. Lalu saya pamit untuk berkunjung ke tenda-tenda lainnya. Mereka melepas kami, relawan dengan rasa bungah akan perhatian dan kunjungan kami. Diceritakan oleh ibu Sapiah dan suaminya pak  Zainal Abidin usiaa 45, ditenda berwarna biru, dihalaman kantor Kecamatan Lhoong pada awal Februari 2005. (Al Shahida)

London, 26 Desember 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: