Oleh: syaddad | Rabu, 16 Januari 2008

Mengamalkan Nilai Hijrah Guna Memerangi Mental Spekulan

M. Amar Ma’ruf [www.kabarindonesia.com] – Makna hijrah tidak terlepas dari pengertian yang terbangun dari perilaku, perjalanan dan perjuangan para Nabi, terutama perjuangan Nabi Muhammad SAW di dalam membawa manusia untuk terlepas dari belenggu dan tekanan kaum yang berkuasa yang tidak beriman kepada Sang Khalik. Makna ini berarti pula membawa diri-diri ini menjadi diri yang lebih baik dan dapat memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat, baik dalam hubungan kita sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar maupun juga hubungan dengan Sang Pencipta alam Semesta, Allah azza wa jalla/Al-Khalik.

Dalam lingkup sebuah bangsa, perjalanan hijriah diartikan pula sebagai perjalanan bangsa di dalam merebut kedaulatan dan kemerdekaan sebagai dasar peningkatan martabat rakyat dan bangsa di segala bidang dengan tidak melupakan bahwa usaha atau perjuangan untuk mencapai itu dengan dilandasi oleh suatu kesadaran yang penuh bahwa semua itu adalah bergantung pada kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Tanpa kesadaran terhadap kekuasaan tersebut, dipastikan suatu bangsa tersebut tidak melakukan suatu pengertian Hijriah di atas.

Mengamati perjalanan rakyat dan bangsa Indonesia yang Insya Allah akan memasuki usia kemerdekaannya yang ke-63 setidak-tidaknya rakyat dan bangsa ini telah melakukan suatu proses Hijrahnya, yakni  dari suatu bangsa yang terjajah/tertindas kini bangsa Indonesia telah terlepas dan terbebas dari kekuatan bangsa lain yang hanya memperalat dan memperbudak bangsa demi kepentingan bangsa penjajah tersebut.  Dalam konteks ini, kita mengenal dan mengakui adanya peran dan sumbangsih aktif setiap elemen bangsa di dalam mencapai kemerdekaannya. Kepada merekalah pula predikat pejuang dan pahlawan patut disandangkan.

Yang utama dari perjuangan para pejuang dan pahlawan ketika itu adalah pada saat memperjuangkan dan mencapai kemerdekaan, tindakan mereka didasari oleh sebuah sikap yang bersyukur atas segala keadaan/kondisi dibarengi dengan sikap yang pantang menyerah yang membuahkan suatu kesadaran bagi setiap pejuang bangsa untuk mencapai perbaikan ke depannya dengan senantiasa bersandar pada keyakinan atas pertolongan dan rahmat Allah SWT/Al-Khalik. Sebagaimana bentuk kesadaran tersebut telah terukir dalam pembukaan UUD 1945 yang secara tegas dinyatakan bahwa karena atas Rahmat Allah SWT, bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan dan atas dasar itu pula bangsa Indonesia untuk senantiasa berjuang membantu setiap masyarakat dan bangsa  yang tertindas baik dalam lingkup nasional maupun internasional.

Kesepakatan para pemimpin dan bangsa Indonesia ketika itu yang merupakan kulminasi dari perjuangan bangsa dan sekaligus merupakan titik awal kehidupan berbangsa dan bernegara ke depannya dengan tidak melupakan segala rahmat atau pemberian Sang Khalik atas perjuangan yang dilakukan selama ini. 

Proses hijrahnya bangsa Indonesia ini disadari bukanlah merupakan proses yang mudah dan proses ini merupakan suatu  perjuangan yang bersifat kontinu dengan tantangan-tantangan yang ada. Saat ini pun bangsa Indonesia masih mengalami berbagai cobaan, khususnya di dalam mensejahterakan masyarakat secara utuh, yakni mewujudkan sistem ekonomi yang didasarkan atas azas kerakyatan yang di dalamnya terdiri dari pelaku-pelaku ekonomi yang senantiasa bersyukur kepada Sang Khalik.  Dalam perjalanan pembangunan bangsa, masyarakat Indonesia yang diwarisi oleh sikap  mental pejuang ini masih dihadang oleh adanya kegiatan para spekulan,  baik dalam skala besar maupun kecil,  yang sepak terjangnya seringkali mengakibatkan kerepotan dan kekisruhan dalam kehidupan perekonimian masyarakat, khususnya masyarakat kecil. Akhir-akhir ini kita kembali mendengar isu-isu ketidak-sediaan bahan bakar minyak tanah di beberapa wilayah, isu-isu kenaikan harga bahan baku makanan pokok pun seperti kacang kedelai sehingga mempengaruhi kegiatan perekonomian dan perdagangan masyarakat kecil mengalami ketidak seimbangan. Kondisi ini secara langsung menimbulkan gejolak harga yang dirasakan oleh masyarakat kecil. Kalau tidak segera ditertibkan, masalah ini pada gilirannya akan dapat mengakibatkan timbulnya masalah-masalah sosial lain yang bisa mempengaruhi dan membawa kemudharatan dalam skala dan lingkup yang lebih luas.

Dalam konteks ini,  kita sebagai anggota dari masyarakat dan bangsa Indonesia yang memiliki sejarah perjuangan di atas perlu senantiasa diingatkan dan disegarkan melalui suatu refleksi dari upaya dan perjuangan dari para pendahulu dan pemimpin bangsa yang telah mengorbankan baik materiil maupun jiwanya dengan mengorbankan keinginan dan kepentingan golongan untuk mencapai kemanfaatan yang lebih besar bagi generasi yang hidup setelah mereka. Dapat dikatakan para pahlawan tersebut telah melakukan suatu proses hijrah bagi dirinya dan juga untuk bangsa dan negaranya.  

Disadari tantangan tersebut bila tidak segera diatasi akan dapat mengganggu tercapainya salah satu tujuan nasional, yakni meningkatkan tingkat kesejahteraan rakyat, khususnya masyarakat  miskin/kecil.

Diharapkan dengan telah diidentifikasinya masalah di atas dan kemudian dibrantasnya mental dan perilaku spekulan,  permasalahan yang saat ini  masih dihadapi oleh bangsa Indonesia yakni sekitar 17,75 % penduduk bangsa Indonesia masih hidup dalam garis kemiskinan dari jumlah penduduk yang hampir 200 juta ini, dapat terbantu untuk terpecahkan. Tentunya dengan mengharapkan pertolongan dan bantuan dari Sang Khalik, masyarakat dan bangsa Indonesia pun tetap menjadi bangsa yang kokoh ke depannya.  Amin.  Wallahu’alam bi shawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: