Oleh: syaddad | Kamis, 31 Januari 2008

Misi Islam Ruba’i bin Amir

Ruba’i bin Amir melaju cepat dengan kudanya. Ia menuju perkemahan Rustum, Panglima Pasukan Kerajaan Persia saat itu. Setibanya disana, ia mendapati semua pembesarnya berpakaian kenegaraan. Majelis mereka dihiasi dengan hamparan permadani dan sutra yang serba mahal. Rustum duduk disinggasananya. Ia memekai mahkota emas yang dihiasi dengan batu permata yang serba mahal. Sebaliknya, Ruba’i bin Amir, Panglima Pasukan kaum Muslimin itu, hanya berpakaian kasar dan sederhana.

Ruba’i bin Amir langsung masuk ke perkemahan itu tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya. Ia tetap menunggang kudanya dan membiarkannya kaki kuda itu mengotori hamparan permadani yang seba mahal itu. Tiba-tiba ia berhenti, kemudian turun dari kudanya sebelum sampai di hadapan Rustum yang menantinya. Rupanya, Rustum telah sengaja memasang sebuah palang besi setinggi setengah badan. Dengan itu, dia berharap Pemimpin Pasukan Muslim itu mau berjalan menghadap dirinya dengan membungkukkan badannya. Namun, Ruba’i bin Amir tak kalah cerdik. Dia kemudian membalikkan tubuhnya, lalu berjalan mundur seraya membungkukkan badannya sehingga pantatnya menunggingi sang panglima Persia itu.

Ruba’i lalu berjalan menghadap Rustum dengan tetap menyandang tombaknya. Seketika itu pula hamparan permadani itu terkoyak-koyak oleh senjatanya. Melihat itu para pembesar itu segera berseru, “Letakkan senjata itu!”.

Ruba’i menjawab, “Aku dating kemari hanyalah atas undangan kalian. Jika kalian suka, biarkan aku dalam keadaanku seperti ini. Kalau tidak, aku akan pulang.”

“Biarkan ia menghadap!” kata Panglima Rustum.

Rustum lalu mengajukan sebuah pertanyaan, “Apa yang mendorong kalian dating kenegeri kami?”

Ruba’i yang berdiri tegak penuh wibawa, menjawab dengan tegas, “Kami dating untuk membebaskan manusia dari penyembahan sesame manusia ke penyembahan kepada Allah; dari kesempitan dunia ke keluasannya; dan dari kezaliman agama-agama ke keadilan Islam.”

Begitulah Ruba’i. Ia menjelaskan bahwa kedatangan pasukan Negara Islam ke negeri Persia bukan karena ambisi ekonomi atau politik demi mengeksploitasi bangsa/Negara yang dikuasai. Sebaliknya, kedatangan mereka membawa misi luhur: memerdekakan manusia dari segala bentuk penindasan; menebarkan kebaikan, rahmat dan hidayah; serta menerangi jalan hidup dan melenyapkan kezaliman yang membelenggu mereka. Inilah misi mulia yang diemban Daulah Islam dalam setiap ekspansinya.

Sebelum Ruba’i, utusan lain yang dating kepada Rustum adalah Mughirah bin Syu’bah. Seperti ditulis oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah, Mughirah bin Syu’bah juga menyampaikan jawaban yang sama ketika ditanya Rustum, “Dunia bukanlah tujuan kami. Cita-cita dan tujuan kami adalah akhirat. Allah telah mengutus kepada kamu Rasul dan Dia berkata kepadanya (yang maknanya): Aku telah memberikan kekuasaan kepada kaum ini (kaum Muslim) atas orang-orang yang tidak tunduk pada agama-Ku.”

Rustum bertanya lagi, “Agama apakah itu?”

Mughirah menjawab, “Pilar yang tegak di atasnya kesaksian, bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, serta pengakuan atas semua yang dating dari-Nya.” (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, IV/43)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: