Oleh: syaddad | Kamis, 21 Februari 2008

HAM : Alat Penjajahan Barat

logo_web_komnas.gifHak Asasi Manusia yang sering disebut HAM, tak pelak merupakan ide yang sangat populer saat ini. Ide ini pun kemudian menjadi standar manusia untuk menilai baik dan buruk. Sesuatu yang melanggar HAM dianggap buruk; yang sesuai dengan HAM dianggap baik. HAM seakan menjadi agama baru yang menjadi pedoman hidup manusia. Tidak mengherankan kalau tidak sedikit umat Islam yang lebih rela menolak syariah Islam atau memaksakan perubahan hukum syariah demi mengagungkan ide HAM.

Sebagai sebuah pemikiran, HAM bertolak dari dua konsepsi yang saling terkait dan menjadi dasar bangunan ideologi Kapitalisme: teori hukum alam dan liberalisme. Teori hukum alam berbicara tentang prinsip bahwa segala sesuatu ada karena begitulah adanya.  Tema sentral dalam teori ini ialah adanya hak alamiah yang diberikan kepada setiap manusia oleh Tuhan. Teori ini awalnya dilontarkan oleh Aristoteles, lalu dikembangkan oleh Thomas Aquinas dalam konteks Eropa-Kristen, kemudian dikembangkan lagi oleh para pemikir teori Kontrak Sosial—yaitu Hobbes, Locke, dan Rousseau—yang juga pemikir paham liberal.

Sebagai sebuah pandangan filsafat dan tradisi politik, liberalisme menjadikan kebebasan sebagai nilai politik yang paling utama.  Liberalisme berakar di Eropa Barat pada Abad Pertengahan, lalu berpuncak di era Pencerahan.  Seperti dikatakan Lord Acton, kebebasan bukanlah sarana untuk mencapai tujuan politik yang lebih tinggi;  justru kebebasan itulah yang menjadi tujuan politik tertinggi.

Perpaduan pemikiran teori hukum alam dan liberalisme ini melahirkan kredo bahwa manusia pada dasarnya baik. Adapun kejahatan yang dilakukan manusia terjadi karena adanya pengekangan terhadap manusia. Karena itu, agar manusia bisa memperlihatkan sifat aslinya yang baik, manusia harus diberi kebebasan.

Dalam konteks sosial-kemasyarakatan, liberalisme meyakini bahwa individu-individu yang bebas merupakan pondasi masyarakat yang baik. Ini merupakan buah pikiran Locke yang tertuang dalam Two Treatises on Governement (1690), yang berbicara perihal dua konsep dasar kebebasan: (1) kebebasan ekonomi, yaitu hak untuk memiliki dan menggunakan kepemilikan;  (2) kebebasan intelektual, di dalamnya termasuk kebebasan berpendapat. Pemikiran khas empirisisme dari Locke inilah yang menjadi pelopor lahirnya konsepsi modern HAM. Gagasan tersebut juga berperan penting sebagai jastifikasi teoretis dan ideologis bagi lahirnya Revolusi Amerika (1776) dan Revolusi Prancis (1789).

Pada abad ke-18 dan ke-19, para filosof seperti Thomas Paine, John Stuart Mill dan Hegel mengembangkan keuniversalan konsep kebebasan itu. Henry David Thoreau, penulis, filosof, dan naturalis Amerika penjunjung individualisme, menulis On the Duty of Civil Disobedience (1849) yang kemudian sangat mempengaruhi para pemikir HAM; termasuk menginspirasi perjuangan Mahatma Gandhi untuk melawan Inggris dan perjuangan para aktivis hak asasi melawan diskriminasi ras di AS.

HAM menjadi peraturan internasional setelah Perang Dunia I, dan setelah berdirinya PBB, yaitu pada saat diumumkannya Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia pada 1948. Pada 1961 terbit pula Perjanjian Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik.  Pada 1966, diumumkan pula Perjanjian Internasional tentang HAM, Ekonomi, Budaya, dan Sosial.

Sejak menjadi adikuasa tunggal, AS kemudian menjadikan HAM sebagai peraturan universal, yaitu peraturan yang tak hanya diadopsi oleh negara sebagai institusi, tetapi juga oleh rakyat setiap negara di seluruh dunia. Pada 1993, dua tahun setelah bubarnya Uni Soviet, di Wina diadakan konferensi tentang HAM untuk organisasi-organisasi non-pemerintah yang menghasilkan Deklarasi Wina Tentang HAM Bagi NGO. Deklarasi ini menegaskan keuniversalan HAM dan keharusan penerapannya secara menyeluruh atas umat manusia tanpa memperhatikan perbedaan latar belakang budaya dan hukum setempat. Deklarasi ini juga menolak klaim nuansa perbedaan HAM antara satu masyarakat dan masyarakat yang lain.

Basis Politik Luar Negeri Negara Kapitalis

Untuk mengokohkan posisi HAM sebagai peraturan internasional dan universal, AS menjadikan HAM sebagai salah satu basis strategi politik luar negerinya.  Ini terjadi pada akhir 1970-an pada masa Presiden Jimmy Carter. Sejak itu, Departemen Luar Negeri AS selalu mengeluarkan evaluasi tahunan mengenai komitmen negara-negara di dunia untuk menerapkan HAM. Evaluasi tersebut juga menilai sejauh mana negara-negara itu menjalankan HAM. Evaluasi itulah yang menjadi landasan sikap Washington terhadap negara-negara yang dianggap tidak terikat dengan prinsip-prinsip HAM.  Akan tetapi, daftar hitam negara-negara yang buruk pelaksanaan HAM-nya itu tidak pernah mencantumkan Israel. Seperti lazimnya kebijakan AS, dalam perkara HAM ini pun Washington memiliki standar ganda, dan karena itu HAM menjadi diskriminatif.  Negara yang banyak melanggar HAM tidak berarti otomatis diserang oleh AS. Sebaliknya, negara yang sedikit melanggar HAM malah bisa menjadi target operasi militer AS.

Ada negara-negara yang melanggar HAM, tetapi AS menutup mata dan tidak menggugatnya, karena garis kebijakan negara-negara itu dipandang masih sejalan dengan kepentingan AS.  Terhadap mereka, juga demi menunjukkan komitmen sebagai penegak dan pelindung HAM, AS hanya mengeluarkan kecaman dan kutukan keras secara lisan. Ini, misalnya, dilakukan AS terhadap Israel dan Rusia; atau terhadap kasus pelanggaran HAM di Bosnia, Chechnya, dan Palestina.  Sebaliknya, AS dapat bersikap ganas terhadap negara-negara pelanggar HAM yang lain. Terhadap negara-negara yang melakukan ‘dosa HAM’ kecil tetapi berseberangan dengan kepentingan AS, AS tidak segan-segan mengambil tindakan militer, seperti yang dilakukannya terhadap Haiti, Afganistan, atau Irak. AS juga sering mengambil tindakan ekonomi dan perdagangan, seperti yang dilakukannya terhadap Cina.  AS juga acapkali mengambil langkah politik dan diplomatik, sebagaimana yang dilakukannya terhadap banyak negara, termasuk Indonesia dalam kasus Timor Timur. Langkah terakhir inilah yang paling banyak dilakukan AS.  Secara keseluruhan, semua manuver itu dilakukan AS demi tuntutan  berbagai kepentingannya dan atau tuntutan hegemoninya; sama sekali tidak ada hubungannya dengan pelaksanaan HAM di masing-masing negara.

Dampak Buruk Ide HAM

Pada dasarnya HAM memiliki empat konsep dasar kebebasan, yaitu: kebebasan berkeyakinan, kebebasan berpendapat, kebebasan berperilaku, dan kebebasan kepemilikan.  Semua ide ini berbahaya dan berdampak buruk, tidak saja bagi dunia dan umat Islam, tetapi juga bagi umat manusia secara keseluruhan.

Berdasarkan kebebasan berkeyakinan, manusia berhak meyakini ideologi atau agama apapun, juga mengingkari agama atau ide apapun. Ide ini menihilkan peran agama, mendangkalkan akidah umat, menjamurkan pemurtadan, serta menghambat perjuangan penegakan syariah Islam.

Berdasarkan kebebasan berpendapat, setiap orang berhak menyatakan pendapat apapun, dalam hal apapun, tanpa terikat dengan batasan apapun.  Manusia boleh terang-terangan bersikap kufur, ingkar terhadap adanya Allah, atau mempropagandakan ide apa saja walaupun bertentangan dengan akidah Islam atau menyalahi hukum-hukum Islam.  Lalu menjamurlah propaganda tentang kebolehan segala sesuatu yang diharamkan Allah Swt. seperti: riba, perjudian, minuman keras, perzinaan, penyimpangan seksual, dan segala sesuatu yang menghancurkan nilai-nilai luhur Islam. Ide ini juga membuka jalan bagi para agen Barat, orang-orang munafik, orang-orang fasik serta musuh-musuh Islam untuk berpropaganda menentang Islam dan menghancurkan kesatuan umat. Prinsip ini juga membolehkan seruan-seruan yang bertolak dari fanatisme golongan, seperti nasionalisme, patriotisme, dan sebagainya. Padahal Islam telah memerintahkan umatnya untuk menghapuskan fanatisme golongan dan mengharamkan mereka untuk menyerukannya.  Ide ini juga berarti kebolehan bagi agen-agen Barat tersebut untuk menyerukan ide-ide kufur yang dijajakan untuk menjatuhkan martabat kaum wanita, menyebarkan kebejatan dan kebobrokan moral, serta memusnahkan nilai-nilai luhur, kehormatan, dan kemuliaan.  Ide ini pula yang membuat Nabi Muhammad saw. bisa diolok-olok secara bebas di media massa Barat.

Berdasarkan kebebasan berperilaku, setiap orang berhak menjalani kehidupan sesuai dengan kehendaknya selama tidak melanggar kehidupan pribadi orang lain.  Seorang pria berhak menggauli wanita manapun selama wanita itu rela.  Seorang pria berhak melakukan penyimpangan seksual selama tidak melibatkan anak di bawah umur. Seseorang berhak makan dan minum apa saja serta berpakaian seenaknya dalam batas-batas peraturan umum. Di sini tidak ada tempat bagi hukum halal-haram. Yang penting, suatu perbuatan dianggap sah menurut undang-undang. Akibatnya, lahirlah budaya kebejatan dan kebobrokan moral.  Pria dan wanita bisa hidup bersama tanpa nikah. Sesama pria atau sesama wanita dibenarkan dan dilindungi oleh undang-undang untuk melakukan tindak penyimpangan seksual.  Ide ini juga telah melariskan industri pornografi dan pornoaksi dalam bentuk film-film dan majalah-majalah porno, jasa-jasa telepon seks, klub-klub nudis, kaum hippies yang hidup liar dan bebas, dan sebagainya.  Ide ini telah melahirkan penyakit sosial yang beraneka ragam, karena memberikan kebebasan untuk berzina, melakukan penyimpangan seksual, bertelanjang di tempat umum, minum khamr, dan tindak asusila lain.

Berdasarkan kebebasan berkepemilikan, manusia berhak memiliki segala sesuatu sesuka hatinya dan menggunakan segala sesuatu miliknya itu sekehendaknya selama tidak melanggar hak-hak orang lain. Manusia berhak memiliki segala sesuatu, baik yang dihalalkan oleh Allah Swt. maupun yang diharamkan-Nya. Manusia berhak menggunakan atau mengelola apa saja yang dia miliki, baik dia terikat dengan perintah dan larangan Allah maupun tidak sama sekali. Seseorang berhak memiliki barang-barang yang termasuk dalam pemilikan umum seperti ladang minyak, tambang besar, pantai dan sungai-sungai, air yang dibutuhkan masyarakat, dan properti lain yang menjadi hajat hidup orang banyak. Seseorang berhak memiliki barang-barang halal seperti rumah, kebun, toko, pabrik; sebagaimana dia juga berhak memiliki barang yang diharamkan Allah Swt. untuk dimiliki seperti minuman keras, bank ribawi, peternakan babi, rumah bordil, tempat-tempat perjudian, dan barang-barang terlarang lainnya menurut syariah. Seseorang berhak memperoleh atau mengembangkan harta, baik secara halal seperti warisan, hibah, perdagangan, berburu, pertanian, dan industri maupun secara haram seperti perjudian, riba, perdagangan khamr dan obat-obat terlarang, serta usaha-usaha haram lainnya. Akibatnya, terjadi akumulasi kekayaan yang melimpah-ruah di tangan segelintir orang. Dengan kelebihan kekayaannya itu, mereka berubah menjadi satu kekuatan hegemonik yang menguasai dan mengendalikan masyarakat dan negara, baik dalam urusan politik dalam negeri maupun luar negerinya. Di antara mereka ada yang menjadi pemilik industri-industri senjata dan menjadi para pelaku bisnis perang. Mereka melibatkan berbagai negara dan bangsa yang sudah didominasi ke dalam kancah peperangan. Ambisi mereka semata-mata hanya mengeruk keuntungan yang akan mereka peroleh dari perdagangan senjata. Mereka tidak pernah peduli sedikit pun akan darah yang ditumpahkan atau bencana-bencana yang timbul akibat perang.

Kesimpulan

Dari paparan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa HAM adalah ide Kapitalisme yang bertentangan dengan Islam.  HAM hanyalah komoditas politik luar negeri AS dan negara-negara Barat.  HAM menganut standar ganda dan bersifat diskriminatif. Propaganda HAM hakikatnya adalah strategi represif untuk menjastifikasi intervensi AS terhadap negara-negara lain demi melanggengkan dominasi AS.  Karena itu, propaganda HAM merupakan salah satu agenda imperialis modern Barat terhadap negara-negara lain di seluruh dunia.

Negara-negara Barat tidak pernah benar-benar menghargai, menghormati, menjunjung tinggi, apalagi menegakkan HAM.  HAM hanyalah pemikiran teoretis, pemikiran yang ingin menjunjung langit tetapi kakinya tidak memiliki pijakan di bumi. Pelbagai deklarasi tentang HAM selalu hanya berisi anjuran dan ajakan tentang pentingnya menjaga, melindungi, menghargai, menghormati, menjunjung, dan menegakkan HAM.  Deklarasi-deklarasi itu tidak pernah memuat bagaimana semua ide HAM itu bisa ditegakkan. Tidak pernah ada ketentuan tentang bagaimana dan dengan sarana apa HAM bisa ditegakkan.  HAM hanya bermain di tataran ide, tidak sampai pada tataran praktis. Dengan kata lain, HAM hanya menjadi asesoris verbal yang manis di lidah tetapi tidak memiliki kejelasan arah.

Dalam implementasinya, HAM sangat dipengaruhi oleh kepentingan pihak yang memiliki kekuatan. Dengan kata lain, penerapan HAM tidak terlepas dari kepentingan politik, ekonomi dan ideologi dari negara-negara yang memiliki kekuatan. Dalam konteks itu, Dunia Barat, khususnya AS, memanfaatkan isu HAM untuk menekan suatu negara demi kepentingannya sendiri. PBB dan badan internasional lainnya seperti IMF dan Bank Dunia kerap dipakai AS untuk merealisasikan kepentingannya itu. Dengan kata lain, HAM menjadi alat penjajahan Barat. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb

Iklan

Responses

  1. Sesungguhnya bahwa tujuan hakikat manusia tidak banyak dimengerti sebagian besar umat manusia hal ini diakibatkan oleh ego manusia itu sendiri yg dilatar belakangi oleh karakter dan budaya.

    Dari Rohaniah_ Kandungan _ Dunia _ kembali ke sisiNYA

    Jasad habis _ Jiwa/ Nafsin yg akan menjadi jasad di alam metafisika apakah Lauamah,Amarah atau Mutmainah, Rohaniah akan duduk pada jiwa tsb.
    jika jiwa tsb. tidak mutmainah maka tidak akan dapat kembali ke sisiNYA

    Kebanyakan Nafsin hanya diliputi amarah,iri,dengki dll disitulah rohaniah akan duduk dan tersiksalah nafsin tadi

    demikian jika ada yg salah mohon ma’af
    Wassalam

    • Sebelum kita lanjutkan lebih jauh, sebaiknya Anda sebutkan apa tujuan hakikat hidup manusia yg sesungguhnya itu? ^_^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: