Oleh: syaddad | Kamis, 21 Februari 2008

Keadilan & Kesetaraan Gender: Gagasan Absurd

Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) adalah frasa yang digunakan oleh kalangan feminis, aktivis sosialis dan pejabat negara untuk menyebut ketidaksetaraan yang dialami kaum wanita. Untuk itulah KKG sering dikaitkan dengan diskriminasi terhadap perempuan, subordinasi, penindasan, marjinalisasi dan semacamnya. Upaya untuk menghilangkan diskriminasi tersebut adalah dengan menyetarakan gender. Upaya tersebut diwujudkan melalui program-program pelatihan gender untuk membangkitkan kesadaran perempuan, pelatihan tentang isu-isu gender, dan pemberdayaan perempuan dalam berbagai segi kehidupan.

Sejak United Nation Development Program (UNDP) berupaya mengglobalkan konsep KKG ke berbagai negara dunia, khususnya negara-negara berkembang, KKG dipandang sebagai kebutuhan mendasar bagi tercapainya keberhasilan pembangunan. Negara-negara berkembang (yang mayoritasnya adalah negara Muslim) didorong untuk segera mengadopsi konsep ini, dan selanjutkan memasukkannya dalam berbagai program pembangunan.

Pertanyaannya, benarkah KKG adalah konsep untuk menyelesaikan masalah? Ataukah KKG sekadar asumsi yang membuat sebuah negara justru semakin terjerumus ke dalam masalah-masalah baru? Kajian kritis terhadap akar ide KKG akan mengungkapkan betapa absurdnya ide gender. Berbagai konsep yang dibangun di atas ide gender atau sekadar bersanding dengan ide ini pada akhirnya hanyalah sekadar asumsi.

Paradigma Meraih KKG

Kaum feminis, sebagai motor pejuang KKG, percaya bahwa kekuatan budaya membentuk seluruh sifat manusia. Karena itu, kesetaraan gender 50/50 yang memakai standar maskulin (materi, status dan power) hanya dapat dicapai dengan mengubah institusi budaya agar “nurture” wanita juga berubah. Sifat yang selama ini dikaitkan dengan figur wanita tidak cocok untuk meraih kesetaraan 50/50; ia bertolak belakang dengan apa yang dibutuhkan untuk meraih keberhasilan menurut standar maskulin.

Secara garis besar, upaya menghilangkan stereotip gender ini mengacu pada proposal  Socrates,  seorang filosof Yunani kuno. Ada dua hal mendasar, menurut Socrates, yang harus dilakukan. Pertama: menghilangkan female modesty, yaitu menghilangkan sifat-sifat feminin wanita. Secara ekstrem Socrates mengilustrasikan dengan cara berlari telanjang bersama-sama pria dan menghilangkan maternal insting atau sifat-sifat keibuan). Usaha ini lebih bertumpu pada individu. Salah satu contoh upaya meniadakan identitas gender ini adalah dengan menerapkan pendidikan androgini yang menerapkan konsep bebas gender kepada anak laki-laki dan perempuan. Konsep pendidikan ini berbeda dengan konsep pendidikan konvensional yang memandang anak laki-laki dan perempuan berbeda. Dengan demikian, perlakuan terhadap anak laki-laki dan perempuan harus sama. Harus dihindari berbagai sinyal yang berbau stereotip gender, termasuk ayah ibu sendiri harus bebas dari peran-peran berstereotip gender. Kedua: melalui instrumen  sosial dengan mengubah lingkungan sosial sehingga kondusif untuk menghilangkan stereotip gender, misalnya melalui UU. Melalui UU, negara harus menyediakan tempat pengasuhan anak komunal, membenarkan desakralisasi atau kehancuran keluarga, melegalkan aborsi, bahkan—kalau menurut Socrates—melakukan infanticide (pembunuhan bayi). Semua ini bertujuan agar insting keibuan dapat dihilangkan sehingga kesetaraan gender tercipta. Menurut Socrates, sifat keibuan sangat menghalangi tercapainya kesetaraan.

Asumsi di Balik Gender

Sebuah ide, konsep atau pendapat, hanya dapat dikatakan sebagai pemikiran dan konsep yang benar jika telah teruji kesesuaiannya dengan fakta. Jika tidak, ide tersebut hanyalah sekadar asumsi belaka.

Konsep KKG 50/50 menurut UNDP menyatakan bahwa idealnya pria dan wanita harus meraih tingkat kesehatan, pendidikan, pendapatan dan partisipasi politik yang sama. Pandangan ini berdasarkan pemahaman bahwa pria dan wanita memiliki kapasitas, kebutuhan dan kesukaan yang sama.

Pengkajian terhadap ide gender itu sendiri akan menemukan bahwa konsep ini memandang manusia terdiri dari pria dan wanita, dengan perbedaan alami (nature) hanya terletak pada faktor biologis/fisik semata; hanya terletak pada organ reproduksinya. Menstruasi, kemampuan hamil, dan melahirkan diakui sebagai pembeda alami wanita dari laki-laki. Di luar itu, pembagian peran seperti menyusui, mengasuh anak, menjadi pengatur rumah tangga adalah bentukan budaya (nurture). Budaya pula yang dianggap membentuk wanita menjadi feminin dan pria menjadi maskulin.

Konsep gender tidak mengakui adanya perbedaan naluri yang bersifat alami akibat faktor biologis ini. Itulah sebabnya, dalam menyifati perbedaan pria dan wanita, dikenal konsep seks (perbedaan alat reproduksi) dan gender (selain faktor reproduksi yang dianggap bentukan alam). Faktor alamlah yang membentuk  pria menjadi maskulin dan wanita menjadi feminin. Faktor alam ini selanjutnya dirinci menjadi faktor budaya, agama dan kultur.

Menurut konsep gender, hanya sifat maskulin yang mampu menjawab tantangan alam, dan hanya sifat maskulin pula yang dapat  bertahan dan berkembang di ruang publik. Inilah yang menyebabkan sifat feminin menjadi tersisih ketika berkompetisi di ruang publik. Bagi kalangan feminis, keadilan tidak akan tercapai selama sifat maskulin mendominasi ruang publik dan menyisihkan sifat feminin. Solusi untuk mencapai kesetaraan gender adalah dengan meraih sifat maskulin hingga terjadi keseragaman sifat pria dan wanita. Beberapa hal dapat dilakukan untuk mencapai “maskulinitas” yang setara, antara lain dengan memberi perlakuan yang sama kepada individu dan menghilangkan faktor-faktor (khususnya agama dan budaya) di masyarakat yang mendukung terjadinya ketidaksetaraan.

Kegagalan konsep gender dalam memandang manusia ini tampak pada penolakan mereka terhadap naluri manusia, khususnya yang terkait dengan sifat biologis sebagai pria dan wanita. Padahal keadaan biologis manusia dianggap dapat mempengaruhi perilaku manusia. Pada faktanya, pria dan wanita memiliki perbedaan fisik. Rata-rata pria memiliki otot yang lebih besar daripada wanita. Rata-rata wanita memiliki tulang pelvik yang lebih besar daripada pria dan ini sangat mendukung proses kehamilan dan kelahiran. Pria dan wanita juga memiliki hormon yang berbeda. Hormon-hormon pada wanita yang terbentuk pada saat menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui berpengaruh pada kondisi sifat feminin wanita. Sifat yang disebabkan oleh hormon-hormon pada wanita ini ternyata sangat dibutuhkan oleh bayi yang tidak berdaya. Tanpa ada figur  feminin yang mengasuhnya, kelangsungan hidup manusia tidak dapat berjalan secara sehat.

Seorang feminis bernama Alice Rossi yang pada tahun 1960-an sangat menentang adanya perbedaan peran gender, ternyata telah mengubah pandangannya. Sebelumnya, ia berpendapat bahwa peran stereotip gender wanita bukan karena nature (bersifat alami), melainkan karena adanya sosialisasi. Pada tahun 1978 ia menulis, “Perbedaan peran gender bukan karena faktor sosialisasi, melainkan bersumber pada keragaman antarseks, yang mempunyai tujuan fundamental untuk kelangsungan hidup manusia.”

Rossi dengan teguh berpendapat, “Tidak ada satu masyarakat pun yang dapat menggantikan figur ibu sebagai figur pengasuh, kecuali  dalam kasus-kasus yang jarang terjadi saat ada wanita tertentu yang terdeviasi dari kecenderungan sifat normalnya.”

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, pemikir dan politikus Islam abad modern, dalam bukunya, An-Nizhâm al-Ijtimâ‘i fî al-Islâm, menuturkan bahwa pria dan wanita dikaruniai potensi akal (kemampuan berpikir) yang sama. Pria dan wanita, sebagai manusia memiliki potensi hidup yang sama, yakni terdiri dari kebutuhan jasmani dan naluri. Naluri ini meliputi naluri beragama, naluri mempertahankan diri dan naluri melestarikan jenis manusia. Semua ini merupakan sifat kodrati yang telah melekat pada penciptaan manusia. Namun demikian, selain memiliki kesamaan dalam penciptaan sebagai manusia, pria dan wanita juga memiliki kekhususan-kekhususan sesuai dengan jenis kelaminnya masing-masing; baik perbedaan yang bersifat fisik meliputi struktur tubuh, organ reproduksi, sistem hormonal dan lain-lain; ataupun yang bersifat psikis (yang bisa jadi dipengaruhi oleh faktor biologisnya). Karena itu, sungguh tepat saat Islam menetapkan hak dan kewajiban yang sama pada pria dan wanita sebagai manusia (insaniah), sekaligus menetapkan kekhususan hak dan kewajiban berdasarkan jenis masing-masing (sebagai pria dan sebagai wanita). Wanita diberi tanggung jawab utama sebagai ibu dan pengelola rumah tangga, dengan perannya yang besar di sektor domestik. Sebaliknya, pria diberi beban sebagai kepala rumah yang melindungi, mengayomi dan memenuhi kebutuhan sektor domestik, sekaligus berperan sebagai pemimpin bangsa dan negara di sektor publik. Sebagai manusia, pria dan wanita diberi kesempatan yang sama untuk berkiprah di sektor publik dalam rangka meraih kemaslahatan bersama, berdakwah dan menegakkan amar makruf nahi mungkar di masyarakat. Kesamaan potensi dan sifat sebagai manusia, serta keragaman potensi dan sifat berdasarkan jenis laki-laki dan perempuan, akan menjamin terwujudnya kehidupan bermasyarakat yang saling melengkapi, harmonis dan jauh dari ketimpangan.

Konsep gender menafikan naluri dan hanya menerima kesamaan potensi akal dan kebutuhan jasmani. Perbedaan pria dan wanita menurut konsep gender secara alami hanya terletak pada alat reproduksi semata. Asumsi ini pun dapat dibantah. Jika konsep gender menerima perbedaan secara fisik pria dan wanita, mengapa mereka tidak menerima adanya perbedaan sistem hormonal pria dan wanita yang juga bersifat fisik. Apakah karena perbedaan hormonal berpengaruh pada kondisi psikis  seseorang, yang bagi kalangan feminis, dianggap sebagai faktor nurture (bentukan alam). Bahwa sistem hormonal berpengaruh pada kondisi psikis manusia, dan hormon reproduksi pada wanitalah yang mempengaruhi naluri keibuan, dapat dibuktikan dari tidak adanya satu pun peradaban, budaya ataupun kultur sejak zaman paleotik sampai abad modern seperti saat ini, yang tidak memposisikan wanita untuk berperan sebagai ibu.

Dengan demikian, asumsi konsep gender terbantahkan dalam hal: (1) kegagalan dalam memahami naluri manusia.  (2) ketidaksesuaian teori nature dan nurture secara de facto dengan kehidupan masyarakat manapun. Walhasil jelaslah bahwa KKG adalah ide yang absurd dan masyarakat setara yang hendak  diraih hanya sekadar  utopia. Wallâhu a‘lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: