Oleh: syaddad | Senin, 21 April 2008

KARTINI MASA KINI, RIWAYATMU KINI

Bulan April identik dengan bulanya para perempuan, emansipasi menuntut persamaan hak dalam segala bidang mengingat “katanya” hal inilah yang diperjuangkan oleh kartini. Ada yang sudah menjadi insinyur, dokter, pilot, polisi, guru, professor dan ilmuwan. Adakah profesi yang belum terjamah perempuan ?

 

Namun, menilik dari kenyataan diatas, apakah program emansipasi atau feminisme ini steril dari eksploitasi ? Melihat dengan jeli, lahan basah untuk para wanita termasuk para muslimah memang rawan eksploitasi, yaitu eksploitasi fisik. Contohnya bias kita lihat di iklan. Misalnya, mobil yang tidak ada hubungannya dengan tubuh, selalu harus ditemani dengan cewek berpakaian minim. Permen yang dulunya dikonsumsi anak kecil, juga tidak lepas dari penampilan cewek seksi. Bahkan ada cowok yang mendampingi, saling berdekatan, dekat dan semakin dekat untu kmenunjukkan nafas segarnya..

 

Herannya, banyak cewek yang menikamti dirinya yang secara “tak sadar“ sudah tereksploitasi secara fisik. Bahkan ajang ratu kecantikan mulai tingkat kabupaten hingga dunia pun digelar untuk menyaring gelar perempuan paling cantik sedunia, tentu dengan nama pagelaran masing-masing. Mereka pun berbondong-bondong untuk fastabiqul – aurat alias berlomba-lomba pamer aurat. Seakan-akan dengan semakin cantik wajah dan bagusnya tubuh mereka, semakin tinggi pula pujian dan oujuaan yang diberikan. Inikah yang diinginkan oleh perjuangan Kartini di masa lalu ?

 

Rawan Eksploitasi

Dunia perempuan memang rawan eksploitasi, meski banyak yang tidak menyadarinya. Yang jelas jika ditanya, jawabnya bisa beragam. Jawaban siapa pun tidak bisa lepas dari pemahaman seseorang tentang eksploitasi dan bagaimana memandang dirinya sebagai perempuan, khususnya muslimah. Karena setiap jawaban mencerminkan pemahaman tentang kehidupan ini, suatu jawaban khas.

 

Jika pertanyaan diajukan kepada mereka yang antusias daftar untuk menjadi “putri-putrian”, jelas mereka merasa tidak akan dieksploitasi. Wajar, sebab mneyandang gelar “Putri Indonesia” adalah suatu hal langka, terkenal, tajir dan sederetan kesenangan lainnya. Tetapi jika pertanyaan diajukan kepada seorang muslimah yang beriman, maka mereka pasti menjawab bahwa kedudukan seorang wanita adalah mulia, nilainya tidak sama dengan segepuk rupiah. Hal ini karena Islam telah menempatkan wanita pada kedudukan yangtinggi, dilindungi fisiknya dengan kerudung dan jilbab, kepribadiannya dihiasi dengan ahlaqul karimah, akhlak yang baik. Indahnya tubuh dan cantiknya wajah adalah hal yang tidak bisa kita pesan sebelumnya. Di akhirat pun tidak akan ditanya, mengapa wajah kita begini atau begitu. Tapi yang pasti ditanya adalah amal kita, bagaimana menyikapi dan “memanfaatkan” tubuh dan wajah yang sudah dianugrahkan itu.

 

Seorang muslimah beriman, tidak menjadikan fisiknya sebagai sesuatu yang ternilai tapi lebih dari itu, yaitu akal dan akhlaknya. Lalu  mengapa bisa ada 2 jawaban yang bertolak belakang ? tidak lain adalah karena persepsi. Persepsi lahir dari suatu pemahaman. Bagi mereka yang memahami bahwa tampilnya mereka dengan kecantikan fisik adalah puncak kesenangan, maka golongan ini akan mati-matian diet ketat demi kaos singlet dan celana jeans seksi biar ngepas, menghabiskan waktu berjam-jam disalon dan lain-lain. Mereka harus tampil sebaik mungkin secara fisik didepan umum. Urusan otak dan akhlak, nomor sekian. Dosa ? bisa jadi malah tidak terpikirkan. Dunia dianggap sebagai tempat bersenang-senang belaka. Ketika ingin menjadi sosok yang berkepribadian, bukannya sibuk berbenah diri dengan memoles iman dan akhlak, malah banyak muslimah yang latah ikut kursus kepribadian. Apa yang diajarkan ? bagaimana sikap duduk kalau memakai rok mini, tagnan ditaruh dimana, posisi kepala, leher, atau tersenyum dan sebagainya.

 

Sementara itu, bagi sebagian kalanganyang memahami bahwa seorang wanita harus diaui eksistensinya karena kecerdasan dan akhlaknya maka mereka akan giat dan sibuk membaguskan imannya, mengembangkan wawasannya dan mengasah kecantikan akhlaknya.

 

Bagaimana Seharusnya ?

Seorang muslimah bertakwa tentu mesti bisa menghargai dirinya sendiri terlebih dahulu. Dari jaman dulu sampai era digital saat ini, wanita adalah sosok yang cantik. Sejelek-jeleknya penampilan seorang muslimah, tetap saja aura tubuhnya menyimpan berbagai keindahan. Karena itu, Islam tahu bagaimana menghargai tubuh ini dengan mewajibkan memakai kerudung (khimar) dan jilbab ketika keluar rumah. Dengan pakaian takwaini, seorang muslimah memiliki otoritas untuk memilah siapa yang boleh melihat auratnya atau tidak.

 

Kecantikan bukan hanya dibutuhkan oleh fisik tapi kepribadian harus lebih cantik. Menurut siapa ? tentu saja menurut pencipta wanita itu sendiri, Allah SWT, yang artinya sesuai dengan aturanNya. Kepribadian bukan dilihat dari gaya jalannya yang lenggak-lenggok, seberapa manis senyum yang ditebarkan, dan lain-lain. Tapi, kepribadian adalah pola pikir dan pola jiwa seseorang. Ketika seorang muslimah mencampakkan ideology selain Islam, saat itulah dia disebut berpola piker Islam. Ketika seorang muslimah menjaga diri dari aktivitas pacaran, khalwat dan sebagainya dan hanya mau dengan jalan nikah saja, itulah pola jiwa Islam. Dari perpaduan yang unik ini seorang muslimah beriman adalah sosok dengan kepribadian yang unik.

 

Rasulullah s.a.w bersabda : “dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita (istri) yang shalihah” (HR. Muslim).

 

Kedudukan Wanita dalam Islam

Dalam Islam, kedudukan seorang wanita sangat mulia. Tidak seperti dalam sistem Kapitalisme dengan demokrasinya yang memuja kebebasan individu. Namanya juga bebas, jadi manusia diberi kebebasan untu kberbuat, bebas berpikir, berbicara, memilih apa saja termasuk beragama atau tidak. Sementara dalam Islam, ada ketegasan dalam batasan aurat wanita yang boleh diperlihatkan, hanya muka dan kedua telapak tangan yang boleh dilihat didepan umum. Artinya, hamper seluruh tubuh wanita adalah aurat yang harus ditutupi rapat dan tidak boleh dilihat oleh lawan jenis yang bukan mahram di tempat umum.

 

Dalam kedudukannya sebagai anak, anak putri atau putra sejajar. Memiliki kesempatan mendapat pendidikan dan perlakuan yang sama dari orang tuanya. Bahkan dalam hadistnya, Rasulullah s.a.w menyatakan bahwa siapa yang memiliki anak wanita dan bisa mendidiknya dengan baik, maka orang tuanya akan masuk surga. Kedudukannya sebagai ibu. Keyakinan mana yang punya konsep mulia bahwa surga dibawah telapak kaki ibu, selain Islam? Kedudukan ibu lebih mulia 3 derajat daripada ayah. Kedudukan sebagai istri. Rasulullah s.a.w sangat menekankan untuk bertingkah laku yangbaik pada seorang istri. Memberi hak yang layak mulai masalah berpakaian, makanan, pendidikan dan lain-lain. Untuk itu, suaminya harus bisa memenuhinya dengan benar dan baik. Di masyarakat pun, wanita punya kedudukan yang sangat mulia. Hak politiknya sudah diakui jauh sebelum feminisme didengungkan pada abad pertengahan. Ketika Khalifah Umar bin Khattab mengeluarkan peraturan untu kmembatasi mahar pernikahan, tampillah seorang wanita dengan tegas menegurnya karena hal itu tidak sesuai dengan tuntunan Al-Quran. Dan Umar pun mengaku salah sehingga peraturan Negara ditetapkan sesuai apa yang telah tertuang dalam Al-Quran dan As Sunnah saja. Subhanallah, seorang wanita menegur pemimpin Negara dan suaranya didengarkan. Tidak lain kecuali bisa Islam diterapkan sebagai ideology Negara, sehingga wanita pun termuliakan, Insya Allah.

 

Wanita hanya akan mulia dan terangkat derajatnya dengan Islam dan masyarakat akan sejahtera penuh rahmat hanya dibawah naungan Khilafah Rasyidah. Dan Kartini pun tersenyum seperti ketika Islam dating dan ditegakkan, maka gelap pun sirna. Wallahu ‘alam bish shawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: