Oleh: syaddad | Kamis, 3 Juli 2008

MBA (Married By Azzam)

Dani Ardiansyah Menikah muda? Nggak deh. Setidaknya begitu prinsip saya sejak lama tentang pernikahan. Meskipun lagi ngetren, saya selalu tetap dengan prinsip saya. Menikah bukanlah sebuah proses instant yang bisa dilakukan dengan sekejap mata. Prosesnya panjang, harus saling menganal secara lebih dalam pasangan, apapun nama prosesnya.  Selain itu, saya beranggapan, sebelum menikah kita harus menjadi kaya dulu, mapan, dan paling tidak punya usaha.

Menikah adalah salah satu resolusi hidup yang tidak pernah saya targetkan waktunya. Meski sepenuhnya sadar, bahwa selain sunnah Rasul, menikah juga secara naluriah menjadi hasrat yang paling manusiawi yang terkadang bisa jadi sangat mendesak. Tapi saya benar-benar tidak pernah menargetkannya dengan serius. Berbeda dengan Fachri (AAC), yang serius membuat peta hidup dengan target menikah. Tentu saja banyak pertimbangan yang mempengaruhi sikap saya tentang pernikahan tersebut.

Tapi sampai kapan? Orang tua saya bukan orang yang berlebih dalam hal materi. Jadi sudah bisa disimpulkan, bahwa saya tidak dapat mengandalkan mereka dalam hal ini. Dari sana, muncul sebuah tekad, bahwa suatu saat, ketika saya akan menikah, maka segala sesuatunya harus bisa saya tanggulangi sendiri, tanpa perlu merepotkan orang tua. Sudah cukup pengorbanan mereka dalam membesarkan saya selama ini. Meskipun menikahkan anak adalah tugas orang tua, tapi bagi saya, cukup ridho dari mereka saja yang saya dapatkan. Selain itu, saya harus bisa melakukannya sendiri. Dari prinsip ini, lalu muncul kesimpulan dalam diri bahwa saya harus giat dalam bekerja dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.

Saya seorang karyawan swasta dengan gaji yang pas-pasan, background pendidikanpun tidak menjamin. Saya selalu berfikir, dengan gaji yang saya terima setiap bulan dengan jumlah yang sangat minim, dan selalu habis menutupi kebutuhan sehari-hari, akan berapa lama saya mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan saya kelak? Dan keraguan-keraguan itu senantiasa muncul, mengganggu pikiran saya, bahkan menimbulkan sikap pesimis. Tapi, saya tidak pernah berhenti berdoa, saya selalu meminta kepada Tuhan agar diberikan seorang pendamping yang akan menerima saya apa adanya.

Hingga pada suatu saat, saya mengenal seorang gadis yang mampu mengobarkan semangat saya untuk melaksanakan janji yang setara dengan perjanjian Allah dengan bani israil: Mistaqhon ghalizon; pernikahan. Keputusan untuk menikah tiba-tiba saja datang tanpa banyak pertimbangan. Dan sikap saya, tentu saja berbaur, antara rasa percaya diri dan minder, antara berani dan takut, antara ksatria dan pecundang. Yah, semuanya menjadi satu. Dan saya merasa harus melakukan sesuatu dengan perasaan itu. Saya harus mensublimasi semuanya hingga ada hasil akhir dari perang rasa itu menjadi sebuah sikap: Lahaula walaquwwata illa billah. Tentunya dengan segala prasangka baik pada Allah swt, bahwa saya akan menjadi ‘kaya’ setelah menikah. Dan segenggam azzam yang tancapkan dalam hati.

Tentu saja ada tahap-tahap dimana saya sebagai seorang laki-laki, yang siap meminang seorang gadis. Saya harus memenuhi segala persyaratan yang akan diajukan oleh calon pendamping, seberat apapun. Dengan tetap berkeyakinan, bahwa Allah akan memberikan calon pendamping yang tepat, dan mengerti keadaan saya, seperti yang selalu saya minta dalam doa.

Untuk mempermudah pemetaan kebutuhan pernikahan, saya harus membuat tabel kebutuhan untuk proses tersebut. Itu yang selalu terpikirkan oleh saya. Tentu saja dengan segala pertimbangan dan harapan, bahawa biaya pernikahan saya tidak akan melebihi kemampuan saya.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, tentu saja saya harus bekerja keras, saya harus bisa mencari uang tambahan agar semuanya bisa terpenuhi dengan baik. Tidak banyak waktu yang saya miliki untuk itu. Karena sejak komitmen itu datang, saya harus segera membuat keputusan. Karena ini bukan sebuah proses yang biasa dilakukan oleh kebaanyakan orang, ini adalah proses menuju sebuah mahligai suci. Jika saja saya menunda-nundanya, berarti saya membiarkan kesempatan yang telah dijanjikan, bahwa akan sempurnanya separuh agama saya.

Selain itu, saya juga khawatir, setelah komitmen yang saya tegaskan dalam proses ta’aruf, akan menimbulkan riak-riak cinta yang berlebihan pada calon istri saya, bukankah hal itu harus dijaga? Agar hati ini terbebas dari rasa yang tidak seharusnya. Dan, jika pernikahan itu saya tunda, maka besar kemungkinananya saya akan merasakan hal tersebut.

18 hari adalah sisa waktu yang saya punya setelah proses khitbah saya lakukan. Dan itu bukan sebuah waktu yang cukup leluasa untuk sebuah persiapan pernikahan. Dan lucunya dalam kondisi “tertekan” seperti itu, kadang-kadang kita sulit berfikir secara jernih. Alih-alih mencari dan mendapatkan solusi, saya malah  merasakan kebuntuan. Dan disinilah sepertinya kita harus berbagi, mengungkapkan persoalan yang tengah kita hadapi kepada orang-orang yang kita anggap mampu memberikan solusi. Atau palung tidak, dengan bercerita kita telah meringankan beban pikiran kita dengan berbagi, meskipun tidak ada solusi yang berarti.

walaupun sedikit terlambat, saat itu saya bercerita kepada seorang teman tentang apa yang sedang saya hadapi saat itu. Dan darinya saya mendapatkan ide untuk mengatasi masalah keungan yang tengah saya hadapi. Dia menganjurkan agar saya menjual buku yang pernah saya tulis, secara online di internet dengan menyertakan alasan saya menjual buku tersebut, dengan harapan calon pembeli yang membaca keterangan tersebut, akan menaruh simpati dan memutuskan membeli buku yang saya jual. Ironis memang. Tapi saya pikir tidak ada salahnya itu dicoba.

Alhamdulillah, memang Allah maha pemurah, setelah ide itu saya jalankan, diluar dugaan saya, banyak sekali respon positif  atas hal tersebut. Bukan hanya dari orang-orang yang berniat membeli buku saya, tapi banyak juga sahabat-sahabat dari dunia  maya yang manaruh simpati pada saya dan membantu mengirimkan uang secara cuma-cuma untuk membantu biaya pernikahan saya. Dan itu benar-benar membuat saya menangis.

kekhawatiran akan minimnya dana persiapan pernikahan agak mereda.  Saya terhibur oleh kebaikan orang-orang itu. Banyak diantara mereka yang tidak saya kenal langsung, tapi benar-benar tulus membantu saya.  saya benar-benar membuktikan janji Allah. Bahwa niat yang baik akan mendaptkan banyak kemudahan yang tidak diduga-duga.

Satu pelajaran benar-benar saya dapatkan. Ketika kita berada dalam sebuah posisi sulit dan terpojok, jangan pernah enggan berbagi cerita, mintalah pendapat orang-orang yang dekat dengan kita, karena terkadang, jawaban doa kita pada sang pencipta, dijawab-Nya melalui orang-orang yang terkadang tidak kita sangka. Allah menjawab dengan berbagai cara yang mengejutkan. Jangan pernah berhenti berdoa, dan jangan pernah berhenti berusaha.

Iklan

Responses

  1. Hi webmaster!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: