Oleh: syaddad | Senin, 27 Oktober 2008

AMBRUKNYA SISTEM KEUANGAN GLOBAL (2)

Oleh : Hj Nida Sa’adah SE, Ak

Rapuhnya Penopang Sistem keuangan Kapitalisme: Pasar Modal (Stock Exchange)

Sesungguhnya, skandal keuangan yang terjadi pada beberapa perusahaan besar Amerika merupakan pemicu keterpurukan bursa saham Amerika atas keroposnya system keuangan kapitalisme. Pertumbuhan keuangan ala kapitalisme (yang bertumpu pada transaksi spekulatif di sector non-real) memang dapat meningkatkan pertumbuhan sector non-real dengan sangat pesat. Akan tetapi, ia akan menghadapi bahaya pertumbuhan itu sendiri, yakni bahaya ‘gelembung ekonomi’. Ini ditandai dengan meningkatnya harga saham-saham dengan pesat hingga akhirnya harga saham kelewat mahal serta melebihi kapasitas dan kemampuannya berproduksi. Pada saat yang sama, para analis saham pun terus memberikan rekomendasi beli sehingga saham diburu dan harga terus menggelembung. Pada satu saat, penggelembungan itu akan mencapai titik jenuh. Ibarat balon yang terus ditiup sampai besar, ia akhirnya meletus.

Krisis yang berulang

Perlu juga dicatat, krisis yang terjadi sekarang merupakan krisis yang berulang. Pada minggu terakhir Oktober 1997, harga-harga saham di bursa-bursa saham utama dunia jatuh berguguran; berawal di Hongkong, lalu merembet ke jepang, Eropa, dan akhirnya mendarat di Amerika. Anjloknya harga saham tersebut terjadi secara beruntun dari satu negeri ke negeri lainnya. Tragedi serupa terjadi pada bulan dan tahun yang sama, yakni ketika indeks harga saham di new York turun 22% dalam sehari. Indeks utama saham-saham industry Dow Jones jatuh ke titik terendah setelah Worldcom –perusahaan telekomunikasi kedua terbesar di AS- mengajukan proteksi kepailitan ke pengadilan. Disusul kebangkrutan perusahaan energy, Enron, Desember 2001. Lebih kebelakang lagi, peristiwa serupa pernah terjadi pula pada tahun 1929. Ketika itu, jatuhnya nilai saham di Amerika telah menimbulkan depresi ekonomi yang sangat parah sehingga menimbulkan kemelaratan, kelaparan, dan kesengsaraan yang berkelanjutan. Akhirnya, Presiden Roosevelt memutuskan untuk melibatkan Amerika dalam kancah Perang Dunia II dalam rangka membangkitkan Amerika dengan cara memproduksi kebutuhan-kebutuhan perang yang sangat besar.

Rapuhnya Penopang Sistem Keuangan Kapitalisme: Pasar Uang (Money Market)

Terjebak di Sektor Non-Real

Krisis yang terjadi di bursa saham di atas, telah cukup menggambarkan bahwa system keuangan ekomoni yang ditopang kuat oleh sector non-real yang sangat kental dengan bisnis spekulatif sama sekali tidak mendukung terhadap pertumbuhan ekonomi di sector real.

Sebagaimana diketahui, system Pasar Modal tidak akan berfungsi dan berkembang tanpa adanya dukungan system-sistem pokok perekonomian lainnya seperti Perseroan terbatas (PT), system perbankan ribawi, dan system uang kertas inconvertible. Ketiga system tersebut secara sinergis membagi perekonomian kapitalisme menjadi dua sektor: (1) sector real, yang didalamnya terdapat aspek produksi serta pemasaran barang dan jasa secara real; (2) sector ekonomi modal/capital, yang oleh kebanyakan orang disebut sector non-real, yang didalamnya terdapat aspek penerbitan dan jual beli surat-surat berharga yang beraneka ragam.

Saat ini, perdagangan di sector non-real ini telah sedemikian jauhnya, sehingga nilai transaksinya berlipat ganda melebihi nilai sector real. Hampir semua Negara di dunia ini terjangkit bisnis spekulatif seperti perdagangan surat berharga/utang di bursa saham berupa saham, obligasi, commercial paper, promissory notes dsb; perdagangan uang di pasar uang; serta perdagangan derivative di bursa berjangka.

Kenapa sector non-real ini bergerak dengan sangat cepat bias ditelusuri sejak awal tahun 1980. Dalam rangka meningkatkan kapasitas permodalan, perusahaan-perusahaan multinasional di Amerika mulai memanfaatkan dana-dana menganggur yang berada dalam lembaga-lembaga dana pension, asuransi, dsb; juga memburu dana murah di pasar modal atau bermail valuta asing di pasar uang. Cara ini kemudian menjalar ke negara-negara industry lainnya di Eropa dan Jepang, kemudian ke negara-negara industry baru seperti Singapura dan Hongkong hingga terus bergulir ke semua Negara sampai ke level perusahaan. Tindakan tersebut mengakibatkan terjadinya peningkatan arus moneter yang luar biasa dahsyatnya tanpa diimbangi oleh peningkatan arus barang dan jasa.

Data menunjukkan bahwa realitas perdagangan uang dunia telah berlipat sekitar 80 kali dibandingkan dengan sector real. Hal ini merupakan fenomena ‘keterkaitan’ antara sebagian besar perputaran uang dengan arus barang dan jasa. Ini berarti telah terjadi secara global apa yang disebut bubble economy, karena kegiatan ekonomi dunia didominasi oleh kegiatan sector non-real yang spekulatif. Dalam satu hari saja sudah sekitar 1-2 triliun dollar AS dana spekulasi tersebut gentayangan mencari tempat yang paling menguntugnkan di dunia. Dalam hitungan setahun, arus uang berjumlah sekitar 700 triliun dollar AS dalam bentuk stock of financial assets seperti company stocks, derifatives, dan government bonds, commercial paper, dsb. Sementara itu, hanya sekitar 7 triliun saja nilai arus barang dan jasa yang diperdagangkan atau hanya seperseratusnya. Sektor non-real berlipat kali lebih besar daripada nilai total barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksi oleh aktifitas ekonomi negeri-negeri kapitalis maju. Kemudiaan ini melahirkan raksasa-raksasa financial Amerika sebagai transnational company seperti Rockefellers, melons, Morgans, DuPonts, Whitneys, Warbrugs, Vanderbilts, Goldman Sach, lehman Brothers, dan masih banyak lagi. Mereka bukan saja menguasai bank-bank dan perusahaan-perusahaan asuransi, namun juga perusahaan-perusahaan industry; tidak saja di Amrika, tetapi juga di dunia.

Dari sini sekaligus kita dapat mengetahui betapa timpangnya perbandingan sector non-real dan sector real, jauh dari harapan ekspektasi pertumbuhan ekonomi; betapa pula pertumbuhan ekonomi versi kapitalisme hanya merupakan pertumbuhan semu, bukan pertumbuhan sebenarnya.

Lebih runyam lagi, dengan desakan globalisasi dan liberalisasi yang kita terima secara taken for granted itu, pemanfaatan dana-dana untuk spekulasi dalam kegiatan pasar modal dan uang semakin intensif. Dengan begitu, semakin terbuka sector moneternya suatu Negara, akan semakin tinggi resiko perekonomiannya terhadap segala gejolak ekonomi eksternal. Inilah yang terjadi di Indonesia. Dampak yang tidak menguntungkan dari kondisi tersebut adalah ketergantungan ekonomi Negara-negara berkembang terhadap permainan pihak asing. Kondisi diperparah oleh ketentuan-ketentuan WTO yang telah menjerumuskan Negara-negara berkembang ke dalam siatuasi ketergantungan pada kekuatan ekonomi asing.

Bersamaan dengan itu, maraknya fenomena kegiatan ekonomi dan bisnis spekulatif (terutama di dunia pasar modal dan pasar uang) membuat dunia dibayangi hantu bubble economy, yaitu gelembung ekonomi yang besar dalam perhitungan kuantitas moneternya –namun tak diimbangi oleh sector real, bahkan sector real amat jauh ketinggalan- sehingga sewaktu-waktu akan meletus.

Dengan demikian, kita dapat mebayangkan rapuhnya jaringan keuangan dan perdagangan system kapitalisme yang saat ini telah menggurita di seluruh dunia. Dasar-dasar system keuangan dan perdagangannya lebih banyak dipenuhi oleh angan-angan dan khayalan. Ini terbukti dengan makin menggelumbungnya sector non-real ratusan kali lipat dibandingkan dengan pertumbuhan sector real. Jaringan keuangan dan perdagangan mereka bagaikan jarring laba-laba, sangat rapuh dan kehancurannya adalah sesuatu yang niscaya tinggal menunggu waktu.

Ambruknya system keuangan global yang kesekian kalinya ini, akan menjadi salah satu catatan sejarah dalam peristiwa peralihan pemegang peradaban dunia, dari kapitalisme ke Islam, Insya Allah. Bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: