Oleh: syaddad | Senin, 12 Januari 2009

Komitmen, Konsisten dan Sabar

Kiriman dari seorang sahabat : al_shahida@yahoo.com

Ini tulisan lama,moga bermanfaat…

Adalah seorang sosok mualaf sister Hafsa, dia bukan seorang penceramah, atau daiyah ulung, langkah dan gerak fisik dan hatinya bisa dijadikan panutan…

Beliau adalah seorang Mu’alaf, mantan Katholik asli India. Teman duduk di mini bus saat kami ke Bosnia Oktober 98. Hafsa telah memberikan banyak impak, dampak dan pengaruh dalam merealitakan langkah langkah  terkait dengan kepedulian sosial.

Apalah diri ini yang tak ada apa apanya. Kecuali sebersit ghirroh yang terpercik dan demi waktu yang tak banyak tesisa. Cemburuku jadi kian menebal, rasa iri ku kian terpacu kala kutemuia dia telah banyak berbuat. Sebaliknya dia mendakwakan bahwa aku telah banyak memberi inspirasi terhadapnya, padahal sebaliknya – okelah satu satu.

‘Sisss…. panggilnya disuatu hari saat dia mengundangku untuk menemani minum ‘Cammomile Tea’, herb tea,  dikebun belakangnya disuatu sore hari,
‘Kamu sadar kalau trip dan misi kita ke Bosnia tempohari gagal total, useless! Sister Hafsa menggerutu. ’Kita tidak bisa banyak berbuat untuk Bosnia!’ dia kecewa, ‘Jadi aku ke India saja, mau bangun Madrasah dan Panti Asuhan Yatim disana…’ itu putusan yang dia sampaikan. Buku cek dengan nama ‘Ayat’ ia tunjukan – ini menambah terbakar semangatku.

‘Sama…!’ kataku, aku mau ngurusi saudaraku yang Indonesia sajalah, ‘Ini fardu ‘ain ‘ jawabku. Jadi kita berpisah, mencari jalan sendiri sendiri. Sesekali kita kontak per telefon atau per email.

Hafsa, setiap akhir pekan pada hari Ahad, ba’da subuh yang masih remang sudah berada di lapangan pasar terbuka, ‘Open Market’ atau ‘Car Boot Sale’, dimana saja dari Hackney, Walthsamptow, Leyton atau Dalston, Stoke- Newington, dipinggiran London sebelah Timur.

Aku pernah ikutan sekali saja bawa barang ‘unwanted items’ seperti batik, lukisan, keramik, baju bekas. Kita angkut dengan mobil Van di-sopiri sister Saleyha, wanita Inggris nan elok dan cantik, bersuamikan Palestina. Begitu dapat tempat yang luas dan strategis dan bayar parkir, langsung dia gelar kain terpal, lebar sekali, dibeberkan dan ditumpuknya semua baju dan barang bekas atau barang loa-an. Dimeja lipat kita pamerkan barang dagangan seperti kaligrafi ayat, kerajinan tangan, batik, dllnya’ untuk mencari dana..dan.. dana.

Rumahnya ..subhanallah, selalu penuh dengan barang bekas, barang loa-an dari mainan, soft toys, puzzle, buku buku dll dll, dia cuci semua baju bekas layak pakai, lalu disusun dan rapihkan lalu dimasukkan dalam doos dan kantong plastik hitam.
 
Sekali itu saja aku berbusiness dengan Hafsa dan aku tak sanggup mengikuti cara dia mencari dana ke carboot sale, pasar terbuka, disubuh yang gelap dan cuma dapat 50 pounds setelah berdiri 6/7 jam, kedinginan pula. Aku kapok.

Kita berpisah, tidak saling kontak, discontinue komunikasi kita, karena Hafsa selalu mengelana, layaknya dia seorang ‘musyafirah’.Tiba tiba disuatu pengajian petang kita amprokan, dia sedang malakukan ‘Appeal’ untuk Palestina, aku agak terkejut..’koq dia ngurusi Palestina sekarang?

Allahu Akbar… hatiku bertakbir .. ‘Gimana sis bisa nyampe ke Palestina?’ Dengan semangat berapi api dia sampaikan kondisi saudara kita di Palestina sana. Tanpak ragu dia ucap berkali kali kata kata ‘Jihad’ sementara kita sangat paranoid mendengar apalagi mengucap kata kata ini. Allah hu ‘alam, kita tidak tahu siapa orang orang disekitar kita.

‘Lewat Jordan’ Jawabnya, ‘aku merayap’ tambahnya lagi. Masih sempat dia ambil beberapa foto sangat sederhana, kondisi sebuah kampung, nampak anak anak sedang bermain main direruntuhan gedung dan rumah.
 
‘Kita ingin bikin pabrik Roti, yang ada digilas oleh tank mereka… dan ini vital!’ ujarnya. Rencana riilnya ingin membangun pabrik Roti di Nublus dan membelikan kambing kambing ternak bagi korban gusuran Palestina yang telah kehilangan segalanya. Dia telah meraup cukup banyak dan para hadiran begitu kagum dan terharu dengan apa yang dilakukan Hafsa, bahkan menjadi cemeti.

‘Aku senyum bangga dengan apa yang dia kerjakan, akhirnya dia duduk disebelahku ‘ ‘Salamalikum my sister, how are you getting on with your Indonesian project? ‘Alhamdulillah’ kataku – gimana? aku bercerita dan kebetulan kubawa beberapa contoh leaflets.

‘Right….! You have to come to our cicle ‘Ayat’ next Sunday’ pintanya…’dan mereka adalah ibu-ibu muallaf yang sangat sangat multi National dan bersemangat dalam ber-Islam’ demikian Hafsa mengundang untuk promosi jualan kita.

Datanglah aku disuatu Ahad yang telah dijanjikan, dan betul amat beragam dari bule bule Inggris, Sweden, Jerman, Perancis, Lebanon, sampai ke yang hitam dari Jamaika, Barbados, Sudan, Nigeria tak kalah yang non muallaf seperti dari Asia, Pakistan, Bangladesh dengan seabreg-abreg anak anaknya.

Mereka…tentu saja berpakaain ‘kaffah’ hitam, coklat, longgar, tidak seperti aku yang masih sangat liberal dan berpakaian gaya sekular – who care…gerutuku, yang penting khan hatinya…aku membela diri, perang sendiri…walau ada rasa cemburu.

Demkian powerpoint/film kutunjukan, leaflet dan semua perangkat yang sudah siap dikemas – kuserahkan pada ibu ibu, dan tentu saja impaknya, biasa pada nangis meratapi korban dan meratapi kelemahan kita – kita berpelukan menangis, mereka terusik, dan lantas saja pertanyaan dilontarkan ‘ what shall we do now sisters? tanya salah seorang tak kalah pula imbauan sister Hafsa untuk berbuat sesuatu.

Tidak itu saja, usai pengajian dua orang sister dari Jamaika bernama Anisa dan Soraya daftar jadi volunteer dan dia sekarang bertanggung jawab sebagai Tim mengurusi yatim, artinya ‘matching donors & orphans’ dia juga mualaf baru 10 tahun.

‘Sis..kita sih engga formal, resmi apalagi pakai registrasi segala ke Charity Commission, NO WAY – saya tahu sikap mereka terhadap kita.’ berapi api Hafsa berucap. ‘tidaklah yaou’ ..’ini mah sama aja bunuh diri’ tambahnya. ‘you know why? ‘bisa bisa dipantau dan dibekukan dana yang ada, lagian kita sebel sama birokrasi’ jelasnya lagi. Kubenarkan sikap dan tindakannya.

‘OK Hafsa..’ kataku, ‘itu jalanmu, ini jalanku’. Kita mau clear cristal, transparan, no hiding no kidding dan setiap penny ada perhitungan, kita siap diaudit oleh pemerintah Inggris, dunia akhirat’ jawabku tegas.

‘Ini saja masih banyak orang yang tidak percaya, ada yang bingung ada yang kawatir dananya dikorup oleh orang sono didaerah, ada yang curiga dimanfaatkan untuk jihad atau teroris, ada yang nuduh bahwa ini lsm pribadiku’ aku menambahkan. Pening!

‘ Ahhh itu biasa, lagu klasik..ah baca dong surat al-Falaq, masak siiih pesanku di perjalanan lupa. Ini ada satu lagi  pesanku Surah 2:249  “How often has a small band overcome a great band by Allah’s permission! For Allah (swt) is with those who persevere.”

” Berapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah dan Allah beserta orang orang yang sabar (istiqomah)”

‘ ini lagi pesanku: Remember the 3 P’s : Perseverance, Patience and Prayer. You need to increase all 3 continuously and in Balance in order to feel like an army! Duuh hatiku membunga merekah, sangat supportif. Kupeluk Hafsa.

‘ Sis..masih ada satu lagi…’ dengan gayanya yang lembut, ‘Ingat begitu kita duduk berkumpul dengan dua, tiga empat orang merencanakan sesuatu untuk kebaikan untuk  sesuatu yang ma’ruf untuk Allah…tak pelak.. syaiton langsung berbisik, menggoda dan bahkan berusaha menjerumuskan kita pada perpecahan, sehingga terjadi friksi. Jangan mundur – teruskan dan luruskan niatmu hanya untuk Allah semata’..ahhh terlipur juga hati, dan ternyata…aku masih  manusia, terlalu biasa, kadang dapat terpaan seperti ini goyah juga, jadi belum siap’ kataku

‘Good luck and I noticed you are more organised and better than us’ ujar Hafsa.
 
‘Oh come on…ini saja aku strruggling koq, people come and go…’ maklum dealing sama daerah konflik, orang maju mundur…’tambahku mengeluh.
 
‘Dont worry sis..Allah will help us’ tambahnya menyejukkan

Hafsah yang tidak kenal lelah, dia terus dan terus berjalan dan mengelana dan dia seorang Abid (ahli ibadah). Sekali saya dengar dia ada di Granada, Spanyol lain saat saya dengar dia sedang berusaha cari dana untuk merestorasi masjidil AL-AQSA, entah disudut yang sebelah mana? Terakhir yang kudengar kini dia memiliki charity shop, kedai barang loa, itulah gigih dan konsisten, serta kesabaran sosok Hafsa akan komitnya,seyognyanya bila kita sudah komit pada sesuatu, ketekunan (persisten), konsisten semua kendala bisa kita lewatkan dengan kesabaran…

Beberapa pekan lalu tahu tahu emailnya datang dia sedang memberi semangat kepada para janda dan yatim di Palestina sana, tinggal diantara reruntuhan dan gundukan puing puing, tanpak lampu dan air, tak ada yang tersisa, kecuali sekeping iman ‘La illaha illallahh’.

Semoga Allah melindungi dan melimpahkan ganjaran yang berganda buat Hafsa….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: