Oleh: syaddad | Kamis, 29 Januari 2009

KESESATAN DEMOKRASI DALAM PANDANGAN ISLAM

Semoga tulisan ini menjernihkan pemahaman kita terhadap ideologi demokrasi dalam pandangan Islam.

Selamat membaca.

============================

KESESATAN DEMOKRASI DALAM PANDANGAN ISLAM

Oleh : Widjojo Hartono

Wartawan Senior

Bencana besar telah menimpa umat Islam saat ini ketika mereka berpaling dari Islam dan memilih demokrasi. Umat Islam yang sebagian besar kurang paham dalam ajaran agamanya, telah disesatkan oleh para pemimpin yang dianggap sebagai ulama. Mereka yang dianggap ulama telah melakukan pendustaan terhadap umat dan agama Islam dengan mengatakan demokrasi sesuai dengan ajaran Islam.. Apakah ulama tersebut tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tentang demokrasi???

Islam adalah ad-Dien (sistim hidup) yang sempurna.. Tidak ada satu urusan manusia yang menyangkut hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia, yang tidak diatur Islam. Segala sesuatu yang akan membawa kebaikan kepada manusia, telah disampaikan Allah lewat Rasul-Nya. Tidak ada satu hal yang akan membawa keburukan, tidak diperingatkan dan dicegah oleh Allah lewat Rasul-Nya.

Sebagai Sang Pencipta, Allah adalah Zat yang paling tahu akan hakikat manusia dan alam semesta. Setelah Allah menciptakan manusia dan menempatkan makhluk-Nya yang bernama manusia di dalamnya, mustahil kalau Allah tidak membuat aturan untuk mengelola alam semesta dan manusia. Maka Allah menciptakan aturan untuk menjaga kelangsungan hidup manusia dan alam semesta.

Aturan itu bernama Islam. Tentu Islam adalah aturan yang paling cocok untuk mengatur alam semesta dan manusia, karena, manusia, alam semesta, dan Islam adalah ciptaan Allah SWT. Alam semesta yang diciptakan oleh Allah ini tentu akan menjadi damai, baik, dan teratur kalau diatur dengan aturan penciptaNya.

Namun sangat disayangkan banyak orang yang mengaku Muslim tidak memahami akan hal ini, sehingga mereka memilih aturan lain selain aturan Allah untuk mengatur kehidupannya. Salah satu sistim hidup yang digandrungi dan dipuja oleh manusia pada saat ini adalah demokrasi.

Dan sungguh memilukan ketika umat Islam yang telah diberikan oleh Allah : Dien yang sempurna, berpaling dari Islam dan memilih demokrasi sebagai sistim hidupnya. Sebagian besar (hampir seluruh) umat ini yang tertipu dengan demokrasi. Mereka beranggapan bahwa demokrasi adalah ajaran Islam.

Sekiranya mau mempergunakan akalnya dan mata hatinya tidak buta, tentu mereka yang mangaku cendikiawan Muslim tidak akan mengatakan bahwa demokrasi sesuai dengan ajaran Islam.

Antara demokrasi dan Islam dari segi makna, sumber ajaran, dan hakikatnya, jelas berbeda. Lalu dari mana mereka itu mengatakan bahwa demokrasi sama dengan Islam.

Dan barang siapa mencari agama (ad-Dien/tuntunan hidup) selain Islam, maka tidak akan diterima. Dan di akhirat , dia termasuk orang yang rugi. (QS: Ali Imran (3) : 85).

Mari kita analisis secara jernih dan jujur bahwa antara Islam dan demokrasi saling bertentangan.

Pertama :

Secara bahasa , demokrasi berasal dari bahasa Yunani. Dari kata ‘Demos” dan “Kratos” demos artinya rakyat, sedangkan kratos artinya kekuasaan atau pemerintahan. Maknanya adalah pemerintahan/ kekuasaan rakyat. Pada prakteknya adalah suatu pemerintahan yang dijalankan dengan kehendak rakyat (mayoritas rakyat). Maka sistim kekuasaan yang berlaku, hukum undang-undang, program penguasa suatu Negara ditentukan oleh suara mayoritas rakyat atau wakilnya. Adapun makna Islam secara bahasa berarti masuk dalam kedamaian, sedangkan secara syara, Islam berarti pasrah kepada Allah. Betauhid dan tunduk kepada-Nya. Taat dan membebaskan diri dari syirik dan pengikutnya. Maka itu jelas dalam Islam : ketundukan , ketaatan, dan kepatuhan adalah hanya kepada Allah, termnasuk dalam menjalankan pemerintahan, politik, hukum, dan undang-undang.

Dalam Islam, hukum adalah hak Allah untuk membuat dan menentukannya. Dalam demokrasi membuat hukum ada di tanagan rakyat atau wakilnya, yaitu anggota legislative. Jadi sangat jelas bahwa Islam bertolak belakang dengan demokrasi. Ini bisa dilihat oleh setiap orang yang memilili mata kecuali orang buta.

Kedua :

Demokrasi bersumber dari akal manusia. Peletak dasar demokrasi adalah Jean Jasques Russao, orang Rusia, yang kemudian disempurnakanoleh Montesque dengan ajaran trias politika. Dalam Trias Politica disebutkan bahwa kekuasaan terbagi menjadi tiga yaitu : Legislatif sebagai pembuat undang-undang, Eksekutif sebagai pelaksana undang-undang, Yudikatif sebagai pengawas undang-undang.

Adapun Islam bersumber dari wahyu Allah yang disampaikan kepada Rasulullah SAW dengan perantara malaikat Jibril As. Dalam Islam yang membuat undang-undang adalah hak Allah SWT. Undang-undang itu dilaksanakan oleh manusia.

Demokrasi berasal dari pikiran manusia yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan. Sedangkan Islam, berasal dari Allah yang maha sempurna. Bagaimana mungkin keduanya sama?

Ketiga :

Dalam demokrasi orang bebas untuk memilih agama dan berpindah agama, sehingga tidak mengapa bila seorang Muslim murtad, berpindah agama Yahudi atau Nasrani atau agama lainnya. Dalam Islam orang yang berpindah agama (murtad) hukumannya adalah dibunuh.

Seperti sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah!!!”

Islam tidak memaksakan orang untuk menjadi muslim, namun ketika seorang sudah masuk Islam, dia harus taat dan tunduk pada perintah serta ajaran Islam, dan dia tidak boleh keluar dari Islam.

Dalam ajaran demokrasi , setiap orang yang beragama apa saja tidak disebut kafir. Dalam Islam, orang yang beragama selain Islam disebut kafir.

Keempat :

Manusia mempunyai kedudukan yang sama derajatnya dalam demokrasi, baik kafir maupun muslim (namum kenyataannya nagara pengusung demokrasi (Barat) merasa superior, dari bangsa lainnya) dalam Islam, orang Muslim (beriman) lebih mulia derajatnya dari orang kafir.

Sebagaimana firman Allah SWT :

“Dan janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati. Sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang beriman” (QS Ali Imran (3):139).

Keempat hal di atas adalah sebagian kecil pertentangan antara Islam dan demokrasi. Adapun yang perlu diperhatikan adalah hakikat dari ajaran demokrasi. Hakikat dari ajaran demokrasi adalah pemberian kekuasaan kepada mayoritas rakyat atau wakilnya untuk membuat hukum atau undang-undang. Dimana hukum atau undang-undang yang telah disepakati oleh para wakil rakyat akan ditaati dan dijunjung tinggi oleh rakyat. Setiap orang yang melanggarnya akan dikenakan sanksi sesuai dengan undang-undang tersebut.

Sedangkan dalam ajaran Islam yang berhak untuk menetapkan hukum adalah Allah, dan Allah juga yang mentapkan sanksinya terhadap orang yang melanggar hukum-Nya. Oleh kerana itu, demokrasi adalah kemusyrikan, karena menyerahkan hak Allah (membuat hukum) kepada manusia. Bahkan yang lebih celaka, hukum yang dibuat oleh para anggota legislatif ada kalanya menghalalkan yang diharamkan oleh Allah. Seperti membolehkan pelacuran pada tempat tertentu yang diatur undang-undang. Membolehkan penjualan dan pembuatan khamr (miras) pada tempat yang berizin.

Adalah suatu anggapan yang salah kalau dikatakan bahwa demokrasi sesuai dengan Islam. Dalam demokrasi, segala sesuatu diputuskan dengan musyawarah, musyawarah diajarkan dalam Islam.

Benar kalau dikatakan Islam mengajarkan musyawarah. Tetapi bukan berarti Islam sesuai dengan demokrasi. Dalam Islam, hukum telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Maka tidak ada hak bagi manusia untuk membuatnya. Yang dimusyawarahkan dlama Islam adalah persoalan-persoalan tekhnis (cara) dalam melaksanakan perintah Allah, manakala persoalan tekhnis itu belum ditetapkan caranya oleh Allah SWT. Tidak semua urusan harus dimsyawarahkan dalam Islam..

Sebaliknya, demokrasi mengajarkan segala hal harus diputuskan dengan musyawarah. Termasuk hal-hal yang hukumnya sudah ditentukan oleh Allah SWT. Bahkan menentukan halal, haram, baik dan buruk yang semuanya itu telah ditetapkan oleh Allah SWT, masih dimusyawarahkan. Sekiranya kita masih meyakini Islam adalah ajaran yang benar dan sempurna.

Oleh: syaddad | Rabu, 28 Januari 2009

Haramkah Golput ?

Haramkah golput? Pertanyaan yang sampai saat ini masih mengganggu pikiran sebagian muslim di Indonesia, termasuk saya tentunya J

Tulisan ust. Al Khaththath di www.suara-islam.com berikut bisa dijadikan rujukan bagi yang ingin golput di pemilu april 2009 nanti.

====================

Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia III di Padangpanjang, Sumatera Barat, yang  berlangsung sejak Jumat (24/1) hingga Senin (26/1) telah mengeluarkan fatwa haramnya golput dalam pemilu. Menurut Sekjen MUI Ichwan Sam, memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah) dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib. ”Jadi memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram,” tegas Ichwan.

Bila kita menyoroti amal dengan hukum syara’, yakni melihat hukumnya dengan timbangan halal haram, maka dalam hal ini harus dilihat dengan kaca mata hukum syara’ semata, tidak boleh menggunakan pertimbangan-pertimbangan lain. Sebab, hak menghalalkan dan mengharamkan benda (asyaa’) atau perbuatan (af’aal) hanyalah hak Allah, bukan yang lain!. Dalam kasus permintaan fatwa tentang golput, apakah hukumnya halal atau haram, maka permintaan itu boleh.   Tetapi memberikan pengarahan apalagi tekanan agar golput itu diharamkan, jelas ini tidak bisa dibenarkan. Oleh karena itu, bagaimanakah sesungguhnya memilih wakil rakyat dalam timbangan syara?

Hukum syar’i dalam ta’rif para ulama adalah khithab syaa’ri al amuta’alliq biaf’alil ibaad, yang artinya: seruan pembuat syara’ (Allah SWT) yang berkaitan dengan aktivitas manusia. Maka aktivitas memilih wakil rakyat bisa dikategorikan kepada aqad wakalah. Yakni ijab qabul antara rakyat pemilih (muwakkiil) dengan wakil rakyat (wakiil) yang sighat-nya adalah mewakilkan suatu amal kepada wakil rakyat (wakiil).

Dalam wakalah ini perlu diperhatikan amal apa yang akan dilakukan oleh wakil rakyat yang mewakili rakyat yang memilihnya?. Sebab hukum asal dari suatu wakalah adalah mubah. Namun amal dari wakalah itu menentukan halal haramnya suatu wakalah. Bilamana seseorang mewakilkan suatu amal pencurian kepada orang lain, maka wakalah seperti ini hukumnya haram.  Sebaliknya, seseorang yang mewakilkan kepada orang lain untuk mengambil gajinya adalah halal.

Dalam masalah pemilihan wakil rakyat di kursi parlemen, amal yang diwakalahkan adalah amal membuat undang-undang (taqnin) dan melakukan pengawasan kepada penguasa (muhasabah).  Dalam hal ini perlu dijelaskan kepada rakyat tentang status hukum syara’ dari amal wakil rakyat itu sehingga rakyat bisa memberikan wakalah kepada mereka dengan kesadaran hukum Islam.

Dalam pandangan Islam, membuat undang-undang (taqnin) yang diberlakukan kepada rakyat dalam proses pemerintahan hanya bisa dibenarkan bilamana hukum yang diundangkan itu adalah semata-mata hukum syariat Islam yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah. Pembuatan UU dengan rujukan selain dari hukum syara’ adalah haram hukumnya. Sebab tindakan itu bisa terkategorikan melanggar hak Allah SWT dalam membuat hukum.

Allah SWT berfirman: menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang Sebenarnya dan dia pemberi Keputusan yang paling baik”. (QS. AL An’am 57).

Juga Firman Allah SWT: Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. an-Nahl [16]: 116).

Sehingga dalam hal pembuatan perundangan, baik wakil rakyat maupun pemerintah, dibatasi hanya wajib mengadopsi dari hukum syara’ maupun hasil-hasil ijtihad yang digali (istinbath) dari dalil-dalil syar’i. Membuat perundangan dengan merujuk kepada system hukum dan perundangan  selain Islam (baik dari system Kapitalis Barat maupun system Sosialis Komunis) bagi kaum muslimin haram hukumnya.

Sedangkan amal mengawasi pemerintah (muhasabatul hukkam) dengan standar hukum syara’ adalah hak sekaligus merupakan kewajiban rakyat yang bisa dilaksanakan  langsung atau melalui wakil rakyat.

Dengan demikian bilamana rakyat memilih wakil rakyat yang  akan melaksanakan amal mengadopsi hukum-hukum syara’ sebagai UU dan mengawasi kebijakan pemerintah dengan pedoman halal-haram dalam pandangan Islam, maka memilih wakil yang bisa dipercaya untuk mengemban tugas-tugas tersebut hukumnya halal.

Sebaliknya, memilih wakil rakyat yang akan mengadopsi hukum-hukum selain Islam sebagai UU dan mengawasi kebijakan pemerintah tidak dengan timbangan syara’, apalagi secara nyata menolak penerapan syariah oleh negara dan bertekad melestarikan system negara dan pemerintahan sekuler, maka memilih wakil rakyat seperti ini jelas hukumnya haram bagi setiap muslim. Na’udzubillahi mindzalik!

Kini jelaslah halal-haramnya hukum memilih wakil rakyat dalam pemilu. Sekarang tinggal kita lihat bagaimana calon-calon wakil rakyat, apakah masuk dalam criteria halal dipilih atau justru haram dipilih.  Ibarat akad nikah, sebelum diijab oleh calon mertua, seorang lelaki harus melamar terlebih dahulu. Calon mantu yang tidak layak tentu tidak akan diserahi (ijab) dalam majelis akad nikah.

Oleh karena itu, kampanye para calon wakil rakyat di daerah pemilihan masing-masing harus dilihat secara teliti oleh rakyat sehingga rakyat  bisa memilih wakilnya sesuai criteria hukum syariat Islam yang telah diterangkan di atas, bukan sekedar criteria versi MUI yang masih sangat umum tersebut. Sebagai waratsatul anbiya, hendaknya para ulama tidak perlu sungkan dan ragu berbenturan dengan penguasa atau kekuatan politik manapun dalam menerangkan system pemerintahan menurut Islam secara gamblang agar menjadi pedoman rakyat dan penguasa yang mayoritas muslim ini.

Memilih wakil rakyat yang bisa dipercaya (terbukti dalam program-program kampanye syariahnya dalam berbagai bidang kehidupan)  akan memperjuangkan adopsi syariah secara kaffah menjadi UU dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara adalah harga mati buat setiap umat Islam. Namun bila tidak ada yang layak, umat harus menahan diri dari memilih yang haram, dan harus berjuang untuk mengangkat mereka yang layak sekalipun tidak tercatat sebagai calon dalam permainan yang ada!  Baarakallah lii walakum.

Oleh: syaddad | Senin, 12 Januari 2009

Komitmen, Konsisten dan Sabar

Kiriman dari seorang sahabat : al_shahida@yahoo.com

Ini tulisan lama,moga bermanfaat…

Adalah seorang sosok mualaf sister Hafsa, dia bukan seorang penceramah, atau daiyah ulung, langkah dan gerak fisik dan hatinya bisa dijadikan panutan…

Beliau adalah seorang Mu’alaf, mantan Katholik asli India. Teman duduk di mini bus saat kami ke Bosnia Oktober 98. Hafsa telah memberikan banyak impak, dampak dan pengaruh dalam merealitakan langkah langkah  terkait dengan kepedulian sosial.

Apalah diri ini yang tak ada apa apanya. Kecuali sebersit ghirroh yang terpercik dan demi waktu yang tak banyak tesisa. Cemburuku jadi kian menebal, rasa iri ku kian terpacu kala kutemuia dia telah banyak berbuat. Sebaliknya dia mendakwakan bahwa aku telah banyak memberi inspirasi terhadapnya, padahal sebaliknya – okelah satu satu.

‘Sisss…. panggilnya disuatu hari saat dia mengundangku untuk menemani minum ‘Cammomile Tea’, herb tea,  dikebun belakangnya disuatu sore hari,
‘Kamu sadar kalau trip dan misi kita ke Bosnia tempohari gagal total, useless! Sister Hafsa menggerutu. ’Kita tidak bisa banyak berbuat untuk Bosnia!’ dia kecewa, ‘Jadi aku ke India saja, mau bangun Madrasah dan Panti Asuhan Yatim disana…’ itu putusan yang dia sampaikan. Buku cek dengan nama ‘Ayat’ ia tunjukan – ini menambah terbakar semangatku.

‘Sama…!’ kataku, aku mau ngurusi saudaraku yang Indonesia sajalah, ‘Ini fardu ‘ain ‘ jawabku. Jadi kita berpisah, mencari jalan sendiri sendiri. Sesekali kita kontak per telefon atau per email.

Hafsa, setiap akhir pekan pada hari Ahad, ba’da subuh yang masih remang sudah berada di lapangan pasar terbuka, ‘Open Market’ atau ‘Car Boot Sale’, dimana saja dari Hackney, Walthsamptow, Leyton atau Dalston, Stoke- Newington, dipinggiran London sebelah Timur.

Aku pernah ikutan sekali saja bawa barang ‘unwanted items’ seperti batik, lukisan, keramik, baju bekas. Kita angkut dengan mobil Van di-sopiri sister Saleyha, wanita Inggris nan elok dan cantik, bersuamikan Palestina. Begitu dapat tempat yang luas dan strategis dan bayar parkir, langsung dia gelar kain terpal, lebar sekali, dibeberkan dan ditumpuknya semua baju dan barang bekas atau barang loa-an. Dimeja lipat kita pamerkan barang dagangan seperti kaligrafi ayat, kerajinan tangan, batik, dllnya’ untuk mencari dana..dan.. dana.

Rumahnya ..subhanallah, selalu penuh dengan barang bekas, barang loa-an dari mainan, soft toys, puzzle, buku buku dll dll, dia cuci semua baju bekas layak pakai, lalu disusun dan rapihkan lalu dimasukkan dalam doos dan kantong plastik hitam.
 
Sekali itu saja aku berbusiness dengan Hafsa dan aku tak sanggup mengikuti cara dia mencari dana ke carboot sale, pasar terbuka, disubuh yang gelap dan cuma dapat 50 pounds setelah berdiri 6/7 jam, kedinginan pula. Aku kapok.

Kita berpisah, tidak saling kontak, discontinue komunikasi kita, karena Hafsa selalu mengelana, layaknya dia seorang ‘musyafirah’.Tiba tiba disuatu pengajian petang kita amprokan, dia sedang malakukan ‘Appeal’ untuk Palestina, aku agak terkejut..’koq dia ngurusi Palestina sekarang?

Allahu Akbar… hatiku bertakbir .. ‘Gimana sis bisa nyampe ke Palestina?’ Dengan semangat berapi api dia sampaikan kondisi saudara kita di Palestina sana. Tanpak ragu dia ucap berkali kali kata kata ‘Jihad’ sementara kita sangat paranoid mendengar apalagi mengucap kata kata ini. Allah hu ‘alam, kita tidak tahu siapa orang orang disekitar kita.

‘Lewat Jordan’ Jawabnya, ‘aku merayap’ tambahnya lagi. Masih sempat dia ambil beberapa foto sangat sederhana, kondisi sebuah kampung, nampak anak anak sedang bermain main direruntuhan gedung dan rumah.
 
‘Kita ingin bikin pabrik Roti, yang ada digilas oleh tank mereka… dan ini vital!’ ujarnya. Rencana riilnya ingin membangun pabrik Roti di Nublus dan membelikan kambing kambing ternak bagi korban gusuran Palestina yang telah kehilangan segalanya. Dia telah meraup cukup banyak dan para hadiran begitu kagum dan terharu dengan apa yang dilakukan Hafsa, bahkan menjadi cemeti.

‘Aku senyum bangga dengan apa yang dia kerjakan, akhirnya dia duduk disebelahku ‘ ‘Salamalikum my sister, how are you getting on with your Indonesian project? ‘Alhamdulillah’ kataku – gimana? aku bercerita dan kebetulan kubawa beberapa contoh leaflets.

‘Right….! You have to come to our cicle ‘Ayat’ next Sunday’ pintanya…’dan mereka adalah ibu-ibu muallaf yang sangat sangat multi National dan bersemangat dalam ber-Islam’ demikian Hafsa mengundang untuk promosi jualan kita.

Datanglah aku disuatu Ahad yang telah dijanjikan, dan betul amat beragam dari bule bule Inggris, Sweden, Jerman, Perancis, Lebanon, sampai ke yang hitam dari Jamaika, Barbados, Sudan, Nigeria tak kalah yang non muallaf seperti dari Asia, Pakistan, Bangladesh dengan seabreg-abreg anak anaknya.

Mereka…tentu saja berpakaain ‘kaffah’ hitam, coklat, longgar, tidak seperti aku yang masih sangat liberal dan berpakaian gaya sekular – who care…gerutuku, yang penting khan hatinya…aku membela diri, perang sendiri…walau ada rasa cemburu.

Demkian powerpoint/film kutunjukan, leaflet dan semua perangkat yang sudah siap dikemas – kuserahkan pada ibu ibu, dan tentu saja impaknya, biasa pada nangis meratapi korban dan meratapi kelemahan kita – kita berpelukan menangis, mereka terusik, dan lantas saja pertanyaan dilontarkan ‘ what shall we do now sisters? tanya salah seorang tak kalah pula imbauan sister Hafsa untuk berbuat sesuatu.

Tidak itu saja, usai pengajian dua orang sister dari Jamaika bernama Anisa dan Soraya daftar jadi volunteer dan dia sekarang bertanggung jawab sebagai Tim mengurusi yatim, artinya ‘matching donors & orphans’ dia juga mualaf baru 10 tahun.

‘Sis..kita sih engga formal, resmi apalagi pakai registrasi segala ke Charity Commission, NO WAY – saya tahu sikap mereka terhadap kita.’ berapi api Hafsa berucap. ‘tidaklah yaou’ ..’ini mah sama aja bunuh diri’ tambahnya. ‘you know why? ‘bisa bisa dipantau dan dibekukan dana yang ada, lagian kita sebel sama birokrasi’ jelasnya lagi. Kubenarkan sikap dan tindakannya.

‘OK Hafsa..’ kataku, ‘itu jalanmu, ini jalanku’. Kita mau clear cristal, transparan, no hiding no kidding dan setiap penny ada perhitungan, kita siap diaudit oleh pemerintah Inggris, dunia akhirat’ jawabku tegas.

‘Ini saja masih banyak orang yang tidak percaya, ada yang bingung ada yang kawatir dananya dikorup oleh orang sono didaerah, ada yang curiga dimanfaatkan untuk jihad atau teroris, ada yang nuduh bahwa ini lsm pribadiku’ aku menambahkan. Pening!

‘ Ahhh itu biasa, lagu klasik..ah baca dong surat al-Falaq, masak siiih pesanku di perjalanan lupa. Ini ada satu lagi  pesanku Surah 2:249  “How often has a small band overcome a great band by Allah’s permission! For Allah (swt) is with those who persevere.”

” Berapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah dan Allah beserta orang orang yang sabar (istiqomah)”

‘ ini lagi pesanku: Remember the 3 P’s : Perseverance, Patience and Prayer. You need to increase all 3 continuously and in Balance in order to feel like an army! Duuh hatiku membunga merekah, sangat supportif. Kupeluk Hafsa.

‘ Sis..masih ada satu lagi…’ dengan gayanya yang lembut, ‘Ingat begitu kita duduk berkumpul dengan dua, tiga empat orang merencanakan sesuatu untuk kebaikan untuk  sesuatu yang ma’ruf untuk Allah…tak pelak.. syaiton langsung berbisik, menggoda dan bahkan berusaha menjerumuskan kita pada perpecahan, sehingga terjadi friksi. Jangan mundur – teruskan dan luruskan niatmu hanya untuk Allah semata’..ahhh terlipur juga hati, dan ternyata…aku masih  manusia, terlalu biasa, kadang dapat terpaan seperti ini goyah juga, jadi belum siap’ kataku

‘Good luck and I noticed you are more organised and better than us’ ujar Hafsa.
 
‘Oh come on…ini saja aku strruggling koq, people come and go…’ maklum dealing sama daerah konflik, orang maju mundur…’tambahku mengeluh.
 
‘Dont worry sis..Allah will help us’ tambahnya menyejukkan

Hafsah yang tidak kenal lelah, dia terus dan terus berjalan dan mengelana dan dia seorang Abid (ahli ibadah). Sekali saya dengar dia ada di Granada, Spanyol lain saat saya dengar dia sedang berusaha cari dana untuk merestorasi masjidil AL-AQSA, entah disudut yang sebelah mana? Terakhir yang kudengar kini dia memiliki charity shop, kedai barang loa, itulah gigih dan konsisten, serta kesabaran sosok Hafsa akan komitnya,seyognyanya bila kita sudah komit pada sesuatu, ketekunan (persisten), konsisten semua kendala bisa kita lewatkan dengan kesabaran…

Beberapa pekan lalu tahu tahu emailnya datang dia sedang memberi semangat kepada para janda dan yatim di Palestina sana, tinggal diantara reruntuhan dan gundukan puing puing, tanpak lampu dan air, tak ada yang tersisa, kecuali sekeping iman ‘La illaha illallahh’.

Semoga Allah melindungi dan melimpahkan ganjaran yang berganda buat Hafsa….

Oleh: syaddad | Jumat, 9 Januari 2009

OPEN YOUR EYES & HEART

Silakan klik link di bawah dan saksikan kesadisan yang diciptakan Israel untuk rakyat Palestina di Gaza

Mohon diteruskan kepada yang lain, agar dunia tahu hal yang sebenarnya. Karena media massa (termasuk di Indonesia) telah dikuasai Yahudi.

http://portail. islamboutique. fr/gaza2008/

Oleh: syaddad | Jumat, 9 Januari 2009

Antara Gaza, Grace, TV One dan Karni Ilyas

Tolong teruskan berita ini untuk mengingatkan saudara-saudara muslim tentang bahaya media yang dimiliki orang lain terhadap kepentingan ummat.
=================================


Dalam Apa Kabar Indonesia Pagi Senin 5 Januari 2009, dengan halus Indriarto Priyadi dan terutama Grace Natalie mencoba menggiring opini pemirsa bahwa Israel “terpaksa” menyerang. Mereka berbincang bahwa Israel tak akan berhenti menyerang jika serangan roket Hamas tak dihentikan. Dalam
sesi pertama dengan pengamat Bantarto Bandoro, pembicaraan berkutat pada Hamas yang memang mengganggu dan “memancing” serangan Israel dengan serangan roket ke negeri zionis itu.
Pengamat internasional CSIS itu juga menyebut bahwa perang akan berlangsung lama karena -tidak seperti agresi Israel ke Lebanon yang dipukul Hizbullah dan “ditengahi” pasukan PBB- Hamas menolak kehadiran pasukan perdamaian. Opini pemirsa pun tergiring kepada kesimpulan: Israel menyerang karena kesalahan Hamas dan serangan akan terus berlanjut karena Hamas dengan degil menolak campur tangan internasional PBB.

Kerja tim yang baik antara Indriarto, Grace dan sang pengamat CSIS. Menjelang sesi berikutnya, wawancara dengan KH. Ahmad Satori dari Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Indriarto membuka dengan menyebutkan seruan boikot produk “yang katanya” dari Amerika oleh beberapa kelompok (Muslim tentu
saja). Ungkapan agak sinis ini kemudian ditimpali Grace, “padahal mereka suka menggunakan produk itu.” Sebuah judgement bahwa kelompok Muslim yang menyerukan boikot produk Amerika sebenarnya justru pecinta produk itu.

Sekitar dua hari sebelumnya, dalam sebuah ilustrasi tentang sejarah konflik di Palestina, narator TV One menyebutkan bahwa tanah Palestina dikuasai Israel setelah gerilyawan Israel berhasil memaksa Inggris-yang diberi mandat oleh PBB- hengkang dari sana. Ini adalah kedustaan yang bodoh dan buta sejarah. Kenyataannya Inggris sejak 1917 memang berencana memberikan tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel oleh kelompok zionis Yahudi. Deklarasi Balfour dengan jelas membuktikan kedustaan ini.
Ada juga penayangan rekaman video dari pihak Israel yang mengebom sebuah masjid. Serangan keji yang menghancurkan rumah ibadah dan menewaskan jamaahnya ini dilakukan dengan alasan masjid menjadi gudang penyimpanan roket-roket Al-Qassam. Ada cuplikan menarik dalam video itu, setelah ledakan bom pertama ada ledakan kedua (secondary explosion) yang diberi tanda dan catatan oleh editor video Israel. Hal itulah yang diklaim sebagai “bukti” adanya roket di dalam masjid. Yang menggelitik, cuplikan itu selalu diulang-ulang oleh TV One dalam tayangan berita tentang serangan Israel.
Beberapa poin di atas menunjukkan adanya upaya penggiringan opini oleh TV One. Yaitu agar publik di Indonesia, termasuk umat Muslim, yang mengutuk serangan brutal dan keji Israel menjadi “memaklumi.” Pertanyaannya, kenapa hal itu dilakukan TV One? Jauh sebelumnya, Grace Natalie juga melakukan penggiringan opini dalam berita kasus terorisme Palembang.

Grace, yang “meninjau” lokasi pesantren yang dituduh menjadi sarang dan tempat latihan tersangka teroris Palembang, melengkapi laporannya dengan ilustrasi bahwa pesantren itu “aneh” karena hanya memiliki sepuluh santri.

Kalau saja Grace seorang Muslim, atau rajin mengamati pesantren-pesantren kecil di pedesaan, niscaya ia akan menemukan pesantren (rintisan tentu saja) yang hanya memiliki lima, empat, tiga atau bahkan satu santri saja. Keheranan seorang Grace yang bukan Muslim dan tidak memahami dunia pesantren memang wajar. Namun komentar bodohnya bahwa hal itu “aneh” memberi bobot bagi penggiringan
opini bahwa pesantren adalah sarang teroris.

Tapi terlepas dari hal tadi, Grace Natalie dan TV One memang hebat. Liputan mereka tentang kasus terorisme selalu berhasil mencapai level eksklusif. Saat para wartawan di Yogyakarta tak bisa mendekati rumah tempat Mbah alias Zarkasih ditangkap, Grace malah terlihat ada di mobil Densus 88 yang
melakukan penangkapan. Tak heran jika dalam pemberitaan penangkapan tersangka teroris di Palembang pun Grace bisa masuk rumah salah satu tersangka dan memamerkan “temuannya,” sebilah pedang samurai yang biasa dijajakan di kakilima. Tak begitu dahsyat, tapi lumayan, bisa menambah
bobot penggiringan opini bahwa itu memang rumah teroris.

Bos Grace, Karni Ilyas, malah lebih hebat lagi. Pada saat penangkapan Amrozi, ia melaporkan langsung dari TKP, padahal posisinya waktu itu Pemred SCTV. Demikian juga saat penyerbuan di Batu yang berakhir dengan kematian Dr. Azahari, Karni yang waktu itu Pemred Anteve melaporkan langsung dari TKP. Di mana ada kasus terorisme besar yang terungkap, di situ pasti ada Karni Ilyas atau anak buahnya -salah satunya Grace Natalie. Hubungan Karni yang dekat dengan Komjen. Gories Mere membuatnya selalu mendapatkan liputan eksklusif tentang operasi Densus 88.

Jangan lupa juga bagaimana reporter TV One (waktu itu masih bernama Lativi) Alfito Deannova berhasil mengajak Ali Imron -terpidana seumur hidup kasus Bom Bali yang seharusnya meringkuk dalam penjara- jalan-jalan menapaktilasi lokasi persiapan dan pelaksanaan Bom Bali. Ali memang fenomenal, saat kawan-kawannya meringkuk dalam sel, ia malah bisa ngopi bareng Gories Mere di Kafe Starbucks yang di yakini salah sebuah usaha milik jaringan zionis internasional.

Ketika hal itu memicu kegemparan, Gories beralasan bahwa Ali dibon untuk mengungkap jaringan teroris. Ini masih masuk akal, Gories memang berwenang melakukan berbagai upaya dalam penyidikan. Namun bagaimana bisa TV One “mengebon” Ali yang napi untuk acara eksklusifnya?
Lagi-lagi stasiun televisi yang sahamnya dimiliki oleh taipan media keturunan Yahudi Rupert Murdoch -melalui Star TV Group- ini memang hebat.

Okelah, bisa jadi Karni Ilyas berniat baik, memfasilitasi Polri dengan stasiun televisi tempatnya bekerja dalam kampanye pembentukan opini memerangi terorisme di Indonesia. Biarlah kelompok Muslim dan pesantren yang sempat menjadi sasaran kampanye itu marah dan sedih, toh mereka masih bisa membantah, ini negeri demokrasi tempat pendapat bebas diumbar kan?

Tapi sangat jahat kalau Hamas, Muslim Palestina dan bangsa terjajah itu kemudian dihalangi dari dukungan Muslim dan bangsa Indonesia. Yaitu dengan membentuk opini bahwa Israel tidak salah kalau
menyerang mereka. Salah mereka sendiri melakukan perlawanan terus-menerus pada penjajah zionis yang jauh lebih kuat. Ini adalah kampanye terselubung mendukung kekejian zionisme.

http://www.muslimda ily.net/2009/ 01/05/Antara+ Gaza%2C+Grace% 2C+TV+One+dan+Karni+Ilyas+ .html

Oleh: syaddad | Jumat, 19 Desember 2008

Kotak Pandora Bernama BLBI (2 – Habis)

Usai pertemuan di Pulau Dajjal tahun 1987, konspirasi globalis merancang tahap demi tahap agar Asia Tenggara bisa dijadikan laboratorium ‘bail-out game’ tersebut. Tahap-tahap ini bisa kita lihat dalam kejadian nyata yang kemudian benar-benar terjadi.  

Pada tahun 1996, John Naisbitt menerbitkan buku Megatrends Asia: The Eight Asian Megatrends That Are Changing The World yang mencanangkan keajaiban Asia (The Miracle of Asia) sebagai pemilik Milenium Ketiga. Perekonomian dunia akan tumbuh dengan pesat di Asia, demikian Naisbitt. Buku ini dicetak besar-besaran dengan promosi yang dahsyat. Media massa dunia yang dikuasai Yahudi berlomba-lomba memuat rilis buku ini. Naisbitt bagaikan selebritas dunia baru yang diundang ke berbagai negeri Asia untuk memaparkan ramalannya. Buku Naisbitt oleh banyak tokoh Asia diyakini kebenarannya tanpa reserve. Dada para pemimpin Asia menjadi sesak sarat kebanggaan. Megalomania berujung pada lupa daratan. “Inilah saatnya kami memimpin dunia,” demikian pikir mereka. 

Masyarakat satu pun tidak ada yang berpikir bahwa Naisbitt—demikian pula Huntington dan intelektual lainnya di kemudian hari—sesungguhnya merupakan satu teamwork dari kekuatan globalis yang tertutup kabut, yang secara sistematis merencanakan The Unity of The World di bawah kekuasaan Yahudi (Novus Ordo Seclorum, seperti yang tertera di lembaran satu dollar AS). Akibat suatu kampanye terselubung yang sistematis dan sangat rapi seperti itu, yang sengaja memprovokasi para pemimpin Asia dan para pengusahanya, maka dengan begitu yakin mereka segera bersikap ekspansif, membangun negara dan perusahaannya menjadi lebih besar dari apa yang sebenarnya dibutuhkan. Lantas darimana uangnya? 

Bagaikan suatu kebetulan (yang aneh), awal tahun 1990, lembaga keuangan dunia menawarkan utang dalam jumlah amat besar dengan persyaratan amat lunak. Para pemimpin dan pengusaha Asia yang sudah ‘merasa besar’ berbondong-bondong memanfaatkan tawaran yang sangat menggiurkan ini. Dengan sangat berani mereka mengambil utang dalam besaran angka yang fantastis, tanpa menyadari bahwa utang tersebut sesungguhnya berjangka pendek dan berbunga tinggi. Rasionalitas mereka telah hilang, dikubur oleh analisa seorang Naisbitt yang secara meyakinkan menulis bahwa abad 21 adalah abadnya Kebangkitan Asia. 

Tepat di awal tahun 1997, menjelang peringatan satu abad Kongres Pertama Zionis Internasional yang saat itu berlangsung di Basel, Swiss, yang kemudian melahirkan Protocol of Zions (1897), konglomerat dunia berdarah Yahudi, George Soros, tiba-tiba memborong mata uang dollar AS dari seluruh pasar uang di Asia, terutama di Asia Timur dan Tenggara. Akibat disedot Soros, kawasan Asia kesulitan likuiditas dollar AS. Akibatnya, kurs dollar membubung tinggi ketingkat yang belum pernah terjadi dalam sejarah moneter dunia. Padahal, tahun 1997 ini merupakan tahun jatuh tempo pembayaran utang. Para pengusaha Asia yang telah kadung meminjam utang pada lembaga keuangan dunia harus membayar utang beserta bunganya yang tinggi saat itu juga.  

Akibatnya sangat mengerikan. Seratus persen perusahaan-perusaha an pengutang di Asia Tenggara—terkecuali Singapura—dan yang paling parah di Indonesia, ambruk tanpa sempat sekarat. Jutaan karyawan di PHK. Jutaan rakyat tak berdosa jatuh ke dalam lembah kemiskinan yang tak terperikan. Harga-harga membubung teramat tinggi. Jutaan bayi tak lagi minum susu. Air susu sang ibu mengering karena tak makan, sedang susu kalengan harganya tidak terjangkau. The lost generation dipastikan  akan melanda Asia Tenggara. 

Kini giliran IMF dan Bank Dunia yang naik panggung. Bagai malaikat, International Monetery Fund dengan berbagai bujuk rayu menawarkan skema penyelamatan utang. Indonesia adalah pasien IMF yang paling tunduk dan setia. Di saat itulah, sesuai dengan rencana dari pertemuan di Pulau Dajjal di tahun 1987, IMF yang didirikan oleh Yahudi ini menawarkan resep “The Bail-Out Game“. Indonesia menjadi kelinci percobaan dari satu formula yang dibuat oleh komplotan Yahudi Internasional ini. Maka sejak tahun 1997 itu pemerintah memberikan jaminan penuh (garansi) kepada para nasabah bank swasta agar tidak ragu-ragu menanamkan uangnya di berbagai bank swasta. Sebab, jika bank swasta tersebut bangkrut—oleh korupsi para direksi dan komisarisnya sekali pun—maka pemerintahlah yang berkewajiban menalangi, membayari uang para nasabahnya. 

Pemerintah bukannya menolong sektor riil, namun malah menolong orang-orang kaya, para konglomerat pemilik bank, dengan menggunakan uang rakyat.

Oleh: syaddad | Kamis, 18 Desember 2008

Kotak Pandora Bernama BLBI (1)

 

Menurut mitologi Yunani, kotak Pandora adalah  kotak yang isinya merupakan semua kejahatan manusia. Jika dibuka  terbongkarlah semua kejahatan yang  ada. Istilah ini dipakai Dradjat Wibowo berkaitan dengan kasus BLBI. Kasus BLBI atau KLBI ini adalah  kejahatan yang dilakukan para politisi, elit negara, yang berkomplot dengan para pengusaha perampok yang dilindungi dan diuntungkan oleh rezim berkuasa.

Pertengahan Februari lalu, Dradjat Wibowo geram. Anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) ini sungguh-sungguh kecewa dengan sikap Presiden SBY yang memilih tidak hadir dalam rapat paripurna yang mengagendakan dengar pendapat dan meminta jawaban dari presiden atas interpelasi DPR-RI tentang kasus Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) yang istilahnya diperhalus menjadi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). 

“Buat saya, itu indikasi jika Presiden tidak serius untuk menyelesaikan kasus ini. Mungkin Presiden khawatir bahwa ‘kotak pandoranya’ akan terbuka, yang mungkin akan menimbulkan huru-hara politik. Tapi kalau kita selalu saja takut membuka ‘kotak pandora’ itu, lha terus sampai kapan kita membiarkan uang negara nggak kembali-kembali. Jangan lupa jumlahnya 702 triliun rupiah!,” keluh Dradjat dihadapan para wartawan yang mengerubunginya di Senayan saat itu. 

Dalam mitologi Yunani, Kotak Pandora adalah sebuah kotak yang isinya merupakan semua kejahatan-kejahatan manusia. Jika dibuka, maka terbongkarlah semua kejahatan yang pernah ada. Istilah ini sengaja dipakai Dradjat Wibowo karena kasus KLBI atau BLBI ini memang sarat dengan kejahatan-kejahatan yang dilakukan para politisi, elit negara, yang berkomplot dengan para pengusaha perampok yang selama ini diuntungkan oleh rezim yang berkuasa. Bisa jadi, sebab itu kasus ini sampai sepuluh tahun usia reformasi masih saja gelap pekat. Tidak ada satu pun penguasa di negeri ini, dari Habibie hingga SBY, yang berani atau punya nyali membuka dan menuntaskan kasus BLBI. 

Dalam peluncuran buku ‘Skandal BI: Ramai-ramai Merampok Uang Negara’ di Jakarta akhir Januari lalu, Guru Besar Fakultas Ekonomi UI, Sri Edi Swasosno, menegaskan jika kasus tersebut diyakini bermuatan konspirasi global. “Skandal BLBI adalah konspirasi global untuk merampok rakyat Indonesia dan menaklukkan bangsa ini secara teritorial, hingga akhirnya berbagai sumberdaya yang ada pada bangsa ini bisa dikuras. Ini kejahatan perbankan terbesar di dunia,” tandasnya seraya menyatakan jika kasus ini akan terus menyiksa rakyat Indonesia sampai dengan tahun 2030 karena pemerintah masih harus membayar bunga obligasi rekap sebanyak Rp 60 triliun per tahun, yang tentunya berasal dari uang rakyat (!). 

Bagi banyak kalangan, kasus ini berawal saat kolapsnya sejumlah bank negeri ini terhantam badai krisis moneter di tahun 1997. Mantan Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan dan Industri (Menko Ekuin) Kwik Kian Gie menyatakan, “Ketika bank-bank kolaps maka pemerintah oleh IMF dipaksa untuk memperkuat modal perbankan dengan memberikan kucuran dana melalui obligasi rekap. Bank BCA misalnya, mendapatkan obligasi rekap sebesar Rp 60 triliun untuk menyehatkannya, setelah itu oleh IMF diminta untuk dijual, dan dijual dengan harga Rp 20 triliun, bagaimana ini, itung-itungan bisnisnya saya nggak nyampe.” Sebab itu, Kwik menegaskan jika kasus BLBI harus diusut tuntas. Hanya saja pertanyaannya, adakah penguasa di negeri ini yang berani untuk melakukan hal tersebut? 

Konspirasi Global

Mengurai benang kusut kasus BLBI sesungguhnya tidak bisa lepas dari peristiwa-peristiwa global yang tengah terjadi. Guna menelusuri kasus BLBI dan kaitannya dengan –meminjam istilah Prof. Edi Sri Swasono—”Konspirasi Global”, maka salah satu paparan yang sangat menarik bisa kita lihat di dalam buku Edward Griffin berjudul “The Creature from Jekyll Island” (1994). 

Dalam salah satu bagian, Griffin bercerita tentang sebuah pertemuan rahasia di Jekyll Island (artinya: Pulau Dajjal), Georgia-AS, pada tahun 1987. “Pertemuan itu digelar untuk merayakan atas terpilihnya Allan Greenspan, yang ditunjuk Presiden Amerika Serikat George Bush Sr memimpin Bank Sentral AS, The Federal Reserve. Dalam acara tersebut, sejumlah bankir Yahudi ini ternyata juga membahas sebuah rencana seram berbau konspirasi bertema penghancuran ekonomi Asia Tenggara. Dalam dua dasawarsa terakhir, Asia Tenggara dianggap tumbuh menjadi suatu ancaman bagi dominasi ekonomi negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat,” demikian Griffin. 

Dalam pertemuan itu digagas konsep “The Bail-Out Game” atau “Permainan menalangi”. Edward Griffin menulis: “Pertemuan rahasia itu diselenggarakan sebenarnya untuk melahirkan sebuah kartel perbankan yang berfungsi untuk melindungi anggota-anggotanya dari persaingan bisnis, dan mengubah strategi untuk meyakinkan Kongres dan masyarakat umum bahwa kartel ini adalah lembaga keuangan pemerintah AS… Permainan yang dilakukan bernama ‘bail-out’ (menalangi)… Ibarat dalam sebuah panggung sandiwara, inilah strategi untuk memaparkan bagaimana caranya agar pembayar pajaklah (baca: rakyat) yang harus menalangi bila suatu bank di kemudian hari mengalami krisis keuangan.”  Pertemuan tersebut berlangsung sukses dan ‘The Bail-Out Game‘ disepakati akan segera direalisasikan. Asia Tenggara akan dijadikan laboratorium pertama konsep penalangan ini, terkecuali tentu saja Singapura. Negeri pulau yang menyandang predikat sebagai ‘Basis Israel di Asia Tenggara’ ini harus diselamatkan dari uji coba ‘The Bail-Out Game’. Dan dikemudian hari hal itu terbukti.

bersambung….

Oleh: syaddad | Kamis, 11 Desember 2008

Indonesia Termasuk Negara Berpenduduk Lapar Terbesar di Dunia

Jumlah penduduk lapar di dunia pada tahun 2008 meningkat menjadi 963 juta jiwa atau bertambah  43 juta penduduk lapar dibanding tahun 2007. Sekitar 65 persen dari penduduk lapar di dunia  hidup di Indonesia, India, Pakistan, Bangladesh, Congo dan Ethiopia. Diantara faktor utama yang menyebabkan pertambahan jumlah orang lapar adalah tingginya harga pangan, krisis ekonomi dan keuangan yang melanda sejumlah negara yang mengakibatkan jumlah orang miskin meningkat.

Hal tersebut disampaikan organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agricultur Organization) dalam laporannya  mengenai “kondisi kelaparan dunia” yang dirilis Selasa, 9/12. Meski harga pangan dunia  telah mengalami penurunan, menurut laporan tersebut, namun belum secara signifikan mampu mengatasi krisis pangan di beberapa negara berpenduduk besar.

Menurut Wakil Direktur FAO, Hafiz Ghonim, sekitar 2/3 jumlah orang lapar di dunia kini hidup di benua Asia dan negara-negara berkembang. Menurut Ghonim, krisis pangan diperparah dengan semakin sulitnya memenuhi kebutuhan lahan bagi pertanian dan kurangnya sektor pendanaan.

Laporan FAO itu juga menyebutkan sekitar 65 persen orang lapar dunia hidup di 7 negara asia yaitu India, China, Congo, Bangladesh, Indonesia, Pakistan serta Ethiopia. Keberhasilan pengentasan kemiskinan dan pemenuhan kebutuhan pangan di  7 negara yang memiliki kepadatan penduduk tersebut akan berdampak signifikan bagi pengurangan jumlah orang lapar di dunia.

Dalam laporan itu, FAO memuji upaya pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh Thailand dan Vietnam dalam mengurangi jumlah penduduk lapar di negaranya. Menurut laporan tersebut, Vietnam akan mampu mengurangi secara signifikan jumlah penduduk lapar di negara tersebut pada tahun 2015.[syarif/alj/www.suara-islam.com]

Oleh: syaddad | Kamis, 4 Desember 2008

Kisah Tukang Bakso yg sudah 17 tahun selalu ikut Qurban

Pagi tadi dapat kiriman email dari seorang sahabat. Semoga bermanfaat dan jadi pelajaran hidup buat kita.

 =========================================


Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik – rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,…terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak – anak, siapa yang mau
bakso ?

“Mauuuuuuuuu. …”, secara serempak dan kompak anak – anak asuhku
menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. …
Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya
membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.

“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang – uang itu Emang pisahkan ? Barangkali ada tujuan ?” “Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita – cita penyempurnaan iman “.

“Maksudnya.. ..?”, saya melanjutkan bertanya.

“Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :

Pertama, Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari – hari Emang dan keluarga. Kedua, uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja. Dan yang ketiga, uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus
menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.

Hatiku sangat…… …..sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya memang bagus…,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang
mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya….”.

Ia menjawab, ” Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.
Definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita”.

“Masya Allah…, sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso”.

———— ——— ——— ——— —

Oleh: syaddad | Rabu, 26 November 2008

Sekarang Tidak Ada “Laki-Laki” di Arab

Seorang mujahid Palestina berkomentar dengan nada satire “Memangnya masih ada laki-laki di negeri-negeri Arab sekarang? Laporan Muhammad ‘Isa dari Damaskus

Hidayatullah.com–Ketika ratusan peserta “Muktamar Hak Kembali ke Palestina” berjubelan di depan pintu masuk Conference Palace di Damaskus, beberapa peserta berdebat dengan petugas keamanan berpakaian preman di depan pintu.

Pasalnya, banyak peserta Muktamar pria yang berusaha masuk lewat pintu yang sebenarnya dikhususkan untuk wanita.

Tiba-tiba seorang mujahid Palestina menyergah sambil tersenyum, “Memangnya masih ada laki-laki di negeri-negeri Arab sekarang? Kalau masih ada, sudah lama Palestina merdeka.”

Komentar satiris itu membuat orang-orang sekitarnya yang ikut mendengar tersenyum kecut.

Komentar pahit mujahid Palestina itu mengingatkan pada pernyataan Hasan Nasrallah, pemimpin Hizbullah, gerakan perlawanan Syi’ah di Libanon, ketika pertengahan tahun 2006 lalu Lebanon dihujani ribuan bom oleh Zionis Israel, dan tidak ada satupun negara Arab yang membela.

“Wahai para pemimpin negara-negara Arab,” kata Hasan Nasrallah dari sebuah tempat rahasia waktu itu, “Jadilah kalian laki-laki satu hari saja.”

Termasuk di Indonesia juga nggak ya…???

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori